PEMBARUAN.ID – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pesawaran memastikan sosialisasi partisipasi pemilih dalam Pemungutan Suara Ulang (PSU) berjalan maksimal.
Ketua Divisi Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Pesawaran, Ryan Arnando menyatakan, pihaknya dalam melakukan sosialisasi partisipasi pemilih menyasar kepada lintas tokoh masyarakat.
“Dalam melakukan sosialisasi kita menyasar sejumlah tokoh. Mulai dari tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan lain-lain. Hal ini dilakukan karena tokoh-tokoh ini merupakan sosok yang didengar oleh masyarakat. Harapannya masyarakat bisa berpartisipasi,” jelasnya saat diwawancarai, Senin (28/04/2025).
Ryan menambahkan, KPU Pesawaran sudah melakukan sosialisasi di 8 Kecamatan dari 11 Kecamatan yang ada di Kabupaten tersebut.
“Sosialisasi yang belum dilakukan di Kecamatan Padang Cermin, Teluk Pandan dan Way Ratai. Kita targetkan Minggu ini selesai,” jelasnya.
Menurut Ryan, dalam sosialisasi ini terdapat beberapa point yang disampaikan, mulai dari hari pemilihan, kemudian nama pasangan calon, nomor urut hinga visi-misinya. Sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk memilih dan mengawal proses pelaksanaan PSU.
“Pemilu sebelumnya partisipasi pemilih berjumlah 71 Persen. Dalam PSU ini kita menargetkan bisa meningkat,” jelasnya.
Selain itu, ia menjelaskan KPU Pesawaran saat ini sedang dalam tahapan pencermatan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT).
“Kita sedang cek dari jumlah DPT sebelumnya berapa warga yang meninggal hingga bergabung dalam TNI/Polri,” pungkasnya.
*Partisipasi Diprediksi Menurun*
Sementara itu, Pengamat Politik dari Universitas Indonesia Mandiri, Tiyas Apriza, menilai partisipasi pemilih pada pelaksanaan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di Kabupaten Pesawaran berpotensi menurun.
Tiyas yang juga Direktur Perkumpulan Masyarakat Untuk Demokrasi (Permadema) ini mengatakan, PSU memang kerap terjadi di berbagai daerah. Bahkan pada Pilkada sebelumnya, PSU juga ditemukan di banyak wilayah.
Menurut Tiyas, masa kampanye yang sangat sempit juga menjadi faktor yang bisa memengaruhi partisipasi pemilih. Oleh karena itu, potensi turunnya partisipasi ini harus bisa dicegah sebelum terjadi.
“Karena sesuatu yang diulang itu tidak akan sama seperti sebelumnya. Bisa saja terjadi kejenuhan, bahkan ketidakpercayaan terhadap proses politik itu sendiri,” ujar Tiyas saat dimintai keterangan Senin 28 April 2025.
Ia menjelaskan, dalam konteks tujuan demokrasi, partisipasi aktif masyarakat dalam pengawasan pemilihan sangat penting. Bila masyarakat bersikap datar dan tidak ada intensitas pelaporan terhadap proses pemilu, maka potensi turunnya partisipasi akan semakin besar.
Tiyas juga menyebutkan ada empat faktor yang menyebabkan potensi penurunan partisipasi dalam PSU Pesawaran.
“Pertama, banyak pemilih berusia lanjut yang mungkin memilih untuk tidak datang ke TPS karena alasan kelelahan atau memilih beristirahat di rumah. Kedua, banyak mahasiswa asal Kabupaten Pesawaran yang sedang berkuliah di luar kota, sehingga tidak bisa mengikuti PSU,” katanya.
Ketiga lanjutnya, secara teknis-politik, misalnya jika ada temuan kesalahan pada form undangan H-1 pemungutan suara, bisa saja menyebabkan pemilih tidak mendapatkan surat undangan dan akhirnya tidak memilih.
“Terakhir, pelaksanaan pemilihan pada hari Sabtu yang bertepatan dengan akhir pekan. Mungkin niatnya supaya lebih banyak yang memilih, tapi bisa saja malah banyak yang bepergian atau beraktivitas lain sehingga absen memilih,” pungkas Tiyas. (sandika)














