PEMBARUAN.ID – Di SD Negeri 01 Pagar, Blambangan Pagar, yang menjadi pintu gerbang menuju Kabupaten Lampung Utara, ada sebuah pemandangan yang membuat hati bergetar.
Rabu (11/09/2024) siang itu, di bawah teriknya matahari, tampak bangunan sekolah yang berdiri seolah meminta belas kasihan. Plafon atap di salah satu ruangan hancur berantakan, membuatnya tak bisa lagi digunakan.
Di kelas 6, jendela yang pecah terlihat sudah lama tak tersentuh perbaikan. Toiletnya jarang digunakan, bukan karena tak ada yang ingin, tapi karena kebersihannya yang sudah tak bisa ditoleransi.
Dinding-dinding sekolah mengelupas dan cat yang mulai pudar, perlahan kehilangan warna yang pernah memberi semangat pada mereka yang belajar di dalamnya.
Para kuli tinta mencoba mengkonfirmasi kepada Kepala Sekolah, Soleha, tentang kondisi ini. Namun, saat ujung tombak informasi tiba di ruangannya, sang kepala tak ada di tempat.
“Ibu kepala lagi rapat di Dinas Pendidikan,” kata seorang guru dengan nada tenang.
Rasanya, jawaban itu sudah biasa terdengar, seolah sekolah ini memang terbiasa berjalan sendiri tanpa kehadiran sosok pemimpin di dalamnya.
Dessy, seorang guru yang sudah lama mengabdikan diri di sekolah itu, berbicara dengan lirih, namun penuh makna.
“Sekolah ini, yang ada di gerbang masuk Kabupaten Lampung Utara, seharusnya menjadi cermin. Tapi lihatlah, dengan kondisi seperti ini, rasanya miris,” ucapnya, seakan menyimpan harapan yang tak pernah sampai.
“Dinas Pendidikan harusnya lebih peduli. Ini sekolah negeri, lho,” tambahnya, ada desah kelelahan di antara kalimatnya.
Ketika ditanya soal ruangan yang rusak, Dessy mengakui bahwa ruangan itu sudah lama tidak digunakan. Bahkan, toilet yang ada terkesan hanya menjadi pajangan karena ukurannya yang sempit dan tak layak pakai.
Di sudut lain, seorang siswa kelas 6 yang ditemui di luar kelas berbicara dengan suara kecil, tetapi matanya memancarkan kejujuran yang tak bisa disembunyikan.
“Pak, jendela kaca ini sudah pecah setahun lebih, tapi nggak diganti-ganti,” katanya sambil menatap puing-puing yang tersisa. Harapan terdengar di ujung kalimatnya. “Kami cuma ingin sekolah ini diperbaiki, biar belajar lebih nyaman.”
Sekolah itu mungkin bukan gedung megah, tapi di dalamnya tersimpan mimpi-mimpi kecil yang berharap bisa terbang tinggi. Ruangan-ruangan yang retak itu seakan berbicara, menceritakan perjuangan para guru dan murid yang tak pernah lelah, meski dindingnya mulai lapuk.
Di balik setiap kerusakan, tersimpan doa-doa sederhana, agar suatu hari, tempat itu kembali menjadi rumah bagi ilmu pengetahuan yang sejati. (rofiq/red)














