PMII Desak Polres Bertindak Serius
PEMBARUAN.ID (Pesibar) – Tragedi pembunuhan dua kakak beradik di Pekon Baturaja, Kecamatan Pesisir Utara, Kabupaten Pesisir Barat, yang terjadi pada 14 Mei 2025, hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar. Sebulan berlalu, belum ada titik terang soal siapa pelaku di balik kejahatan keji ini.
Menanggapi lambannya pengungkapan kasus, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pesisir Barat mendesak aparat penegak hukum, khususnya Polres Pesisir Barat, untuk menjadikan kasus ini sebagai atensi serius, bukan sekadar kriminalitas biasa.
“PMII Pesibar bersama keluarga korban telah melakukan audiensi dengan jajaran Polres pada Rabu, 18 Juni 2025. Kami tidak datang hanya membawa tuntutan, kami membawa semangat kemanusiaan. Ini bukan hanya kehilangan nyawa—ini tragedi yang melukai rasa keadilan masyarakat. Bila tidak ditangani dengan serius, akan ada gelombang rakyat dan mahasiswa turun ke jalan,” tegas Rengga Jean Minka, Ketua PC PMII Pesibar, saat dikonfirmasi pada Jumat (20/06/2025).
Menurut PMII, belum terungkapnya pelaku tidak hanya menyisakan luka bagi keluarga, tapi juga menciptakan ketakutan di tengah masyarakat, khususnya warga Pesisir Utara. Mereka menilai rasa aman warga telah terusik, dan ketidakpastian penanganan hukum membuat trauma semakin dalam.
PMII mendesak Polres Pesisir Barat untuk lebih transparan dalam menyampaikan perkembangan penyelidikan ke publik. Mereka juga meminta kepolisian mengerahkan seluruh sumber daya untuk mempercepat pengungkapan pelaku dan motif di balik pembunuhan ini.
“Warga Pesisir Barat punya satu semangat: menuntut keadilan dan rasa aman. Jangan biarkan kasus ini mengendap dan dilupakan. Kami akan terus mengawal hingga tuntas,” tegas Rengga.
Lebih lanjut, PMII juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, tokoh agama, hingga organisasi sipil, untuk bersatu mengawal jalannya proses hukum. Mereka berharap tidak ada lagi tragedi serupa yang mencederai kemanusiaan di Bumi Para Sai Batin dan Ulama.
“Pembiaran hanya akan menormalisasi kekerasan. Kami menolak diam,” pungkasnya. (sandika)














