iklan
DAERAHPERISTIWA

Dari Desa Religi Menuju Kemandirian: Kampung Zakat Sidodadi Diresmikan

×

Dari Desa Religi Menuju Kemandirian: Kampung Zakat Sidodadi Diresmikan

Share this article

PEMBARUAN.ID (Pesawaran) – Desa Sidodadi, Kecamatan Way Lima, resmi ditetapkan sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat berbasis religi. Peluncuran Kampung Zakat Sidodadi pada Kamis (12/02/2026), menandai dimulainya model pengelolaan zakat produktif yang digadang-gadang menjadi percontohan di Lampung.

Peresmian dilakukan langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pesawaran, H. Farid Wajdi. Sejumlah pejabat daerah dan pimpinan lembaga filantropi turut hadir, di antaranya Deputi 1 Direktur ID Humanity Dompet Dhuafa Juperta Panji Utama, jajaran FORKOPIMDA, Kepala Kejaksaan Negeri, Kepala Kantor Pertanahan, Ketua BAZNAS, MUI, BWI, LAZISNU, LAZISMU, hingga pimpinan Bank Syariah Indonesia.

Ketua Kampung Zakat Sidodadi, A’immatul Azizah, menyebut pembentukan kampung zakat berangkat dari kesadaran atas besarnya potensi zakat, infak, dan sedekah (ZIS) di desa tersebut. Selama ini, kata dia, potensi itu belum dikelola secara profesional.

“Potensi ZIS di sini ibarat raksasa yang tertidur. Jika tidak dikelola dengan baik, ia hanya menjadi bantuan konsumtif yang habis sesaat,” ujar A’immatul dalam sambutannya. Menurut dia, pendekatan zakat produktif dipilih agar dana umat dapat diolah menjadi penguatan ekonomi jangka panjang.

Sidodadi dinilai memiliki modal sosial yang kuat. Struktur kemasyarakatan yang solid serta tingkat religiusitas warga yang tinggi menjadi pertimbangan utama penetapan desa tersebut sebagai lokus program. Pendampingan intensif dari Kementerian Agama dan KUA Way Lima disebut berperan penting dalam mematangkan konsep pemberdayaan.

Dukungan juga datang dari Dompet Dhuafa, lembaga yang turut merumuskan konsep Kampung Zakat bersama Kementerian Agama RI. Juperta Panji Utama mengatakan, Sidodadi dipilih dari ratusan kampung zakat di Indonesia karena dinilai memiliki kesiapan kelembagaan dan komitmen kolaboratif.

“Kami tidak ingin program ini berhenti pada seremoni. Kampung Zakat harus berdampak nyata dan berkelanjutan,” kata Juperta. Ia menegaskan, pengelolaan zakat diarahkan untuk mendorong usaha produktif warga serta meningkatkan martabat ekonomi masyarakat desa.

Kepala Kemenag Pesawaran, Farid Wajdi, dalam pidato peresmian menekankan pentingnya kerja kolektif. Menurut dia, keberhasilan kampung zakat tak bisa bertumpu pada satu lembaga.

“Sinergi pemerintah, lembaga zakat, dan sektor swasta menjadi kunci. Kita kawal bersama agar program ini benar-benar menjadi solusi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya sebelum menandatangani komitmen bersama para mitra.

Dengan peluncuran ini, Sidodadi memasuki babak baru: dari desa religius menjadi laboratorium kemandirian ekonomi berbasis zakat. Tantangannya kini bukan sekadar menghimpun dana umat, melainkan memastikan pengelolaannya mampu mengubah potensi menjadi kesejahteraan nyata. (***/red)


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *