PEMBARUAN.ID – Region Head PTPN I Regional 7, Tuhu Bangun berdiri di hadapan para peserta, suaranya tenang namun penuh makna. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, ia menyampaikan pesan yang dalam, menyentuh hati para pendengarnya.
“Pemimpin yang sukses tak lahir dari kenyamanan,” katanya, matanya menyapu ruangan, dan melanjutkan ucapan, “Ia terlatih untuk bertahan di tengah badai, fokus pada tujuan meski ombak besar datang silih berganti.”
Di ruangan itu, 30 peserta pelatihan asisten tanaman dan teknik pengolahan PTPN I mendengarkan dengan seksama. Mereka hadir, bersama dengan para manajer, kepala bagian, dan asisten kebun karet dari berbagai wilayah kerja. Walaupun sesi ini berlangsung secara daring, kehadiran Tuhu Bangun berhasil menciptakan atmosfer yang intens, penuh energi.
Seakan membawa para peserta memasuki dunia penuh tantangan, Tuhu menggambarkan perjalanan bisnis agro yang tak lagi mudah. Ibarat mobil melaju kencang di jalan tol, dunia kini sedang dipacu dengan kecepatan tinggi.
“Transformasi yang dilakukan oleh PTPN III Holding ini seperti akselerasi di jalan tol,” jelasnya, suara menggetarkan semangat yang mendengar. “Ini bukan soal kecepatan semata, tapi tentang ketahanan fisik, konsentrasi, dan kemampuan untuk tetap fokus di tengah tantangan.”
Di tengah-tengah penjelasannya, Tuhu menayangkan film pendek yang menggambarkan seekor singa yang menaklukkan gajah jauh lebih besar dari tubuhnya. “Mengapa seekor singa bisa menundukkan gajah? Karena ia fokus,” katanya sambil tersenyum. “Fokus pada satu hal—bertahan hidup.”
Film tersebut mengajarkan pesan sederhana namun kuat: mentalitas yang kuat dan fokus yang tajam mampu mengubah sesuatu yang tampak mustahil menjadi mungkin. Tuhu menantang para peserta untuk menanamkan mentalitas tersebut.
“Jika target kalian tahun ini 1,2 ton per hektar, kenapa tidak 2 ton tahun depan?” katanya dengan nada menantang.
Namun, di balik semua semangat dan ambisi, Tuhu juga mengingatkan pentingnya sisi spiritual dan kasih sayang dalam hidup. Dalam sebuah film pendek lainnya, ia mengisahkan tentang seorang perempuan yang merindukan kebiasaan suaminya yang dulu sering dianggap mengganggu.
“Saat ia tak lagi ada, bau dan suara yang dulu terasa menjengkelkan justru menjadi kenangan yang dirindukan,” jelasnya dengan mata yang mulai sedikit berkaca-kaca.
Pesannya jelas. Di balik semua tantangan, kesuksesan, dan ambisi, ada kehangatan keluarga, kasih sayang, dan keimanan yang tidak boleh dilupakan.
“Cintai pekerjaan kalian, tutupi aib orang lain, dan taatlah pada Tuhan. Dengan itu, kalian akan selamat dunia akhirat,” tutupnya dengan penuh harap.
Di akhir sesi, suasana sejenak hening, namun terasa begitu sarat makna. Bukan hanya tentang strategi bisnis dan kepemimpinan, tapi tentang kehidupan yang seimbang antara ambisi dan kasih sayang, kerja keras dan kebahagiaan sederhana. (***)














