PEMBARUAN.ID – Di tengah tantangan sulitnya mencapai rendemen tinggi dalam industri tebu, Kebun Tulungbuyut yang dikelola oleh PTPN I Regional 7 menyajikan secercah harapan.
Lahan tebu seluas 90 hektare di kawasan ini mencatatkan kandungan gula sebesar 8–9 persen menurut pengukuran brix refractometer, sebuah hasil yang diambil langsung oleh tim TMA Bungamayang. Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata rendemen pada kebun tebu PTPN I Regional 7 lainnya.
Selain rendemen yang menjanjikan, produktivitas lahan juga cukup menggembirakan. Setiap hektare mampu menghasilkan 70–90 ton tebu siap giling, bahkan tanaman baru (PC) yang tahun ini mulai dipanen diprediksi bisa mencapai 100 ton per hektare.
Hal ini diungkapkan oleh Asisten Kepala Tanaman PTPN I Regional 7 Kebun Tulungbuyut, Hotma Arnold Marpaung, yang menyebut bahwa tebu bukanlah komoditas utama di kebun ini.
“Kami memang fokus pada karet, tetapi tebu yang kami tanam di lahan uji coba ini ternyata memberikan hasil yang sangat baik. Bahkan, pada tanaman Ratoon 8, rendemennya masih bisa mencapai 9 persen,” kata Arnold.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan ini diperoleh melalui penerapan prosedur standar dari induk perusahaan pengelola komoditas tebu, PT Sinergi Gula Nusantara.
Manajer PTPN I Regional 7 Kebun Tulungbuyut, Aripin Lubis, juga optimis terhadap masa depan tebu di wilayahnya.
“Hasil uji coba selama sembilan tahun sudah cukup untuk mengambil keputusan. Saya melihat kebijakan untuk memperluas lahan tebu di Tulungbuyut sangat prospektif,” ungkapnya.
Namun, Lubis juga menekankan pentingnya kajian ilmiah yang komprehensif sebelum memutuskan konversi lahan dari karet ke tebu.
“Budidaya tebu membutuhkan biaya besar dan perawatan intensif, namun keuntungan yang diperoleh juga sangat cepat,” ujarnya.
Meski demikian, ia tetap optimis bahwa pekerja di Kebun Tulungbuyut dapat beradaptasi dengan cepat.
“Kami sudah berpengalaman selama sembilan tahun mengelola tebu. Tinggal menunggu kesiapan infrastruktur, maka saya yakin tebu bisa menjadi masa depan kita,” pungkas Lubis.
Optimisme tersebut tidak berlebihan, mengingat meski fasilitas pendukung di kebun masih minim, hasil yang diperoleh cukup memuaskan.
Arnold bahkan mengakui bahwa keberhasilan ini banyak bergantung pada faktor alam.
“Jika fasilitas irigasi dan mesin-mesin pendukung lengkap, saya yakin hasilnya akan lebih optimal,” tambahnya.
Meskipun fokus pada tebu semakin meningkat, Aripin Lubis tetap menyatakan bahwa komoditas karet di Kebun Tulungbuyut masih sangat potensial.
Buktinya, kebun ini meraih juara tiga pada PTPN Award 2024, baik dari segi produksi karet maupun pengelolaan pabrik lateks.
“Karet tetap menjadi andalan, tapi jika ingin hasil lebih cepat, tanam ulang tebu bisa menjadi pilihan menarik,” tutupnya. (***)














