PEMBARUAN.ID – Region Head PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Regional 7, Tuhu Bangun, menegaskan bahwa manajemen tidak akan mentoleransi kebocoran produksi karet di seluruh unit kerja. Penegasan tersebut disampaikan saat melakukan inspeksi lapangan ke Kebun Ketahun di Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, Senin (02/03/2026).
Dalam tinjauan di Afdeling 2, Tuhu Bangun menemukan adanya potensi peningkatan produksi yang masih cukup besar. Ia menilai terdapat ketidaksesuaian antara kondisi lapangan dengan data produksi yang dilaporkan.
“Kami bukan su’uzon, tetapi sebaiknya kita kalkulasi hasil kerja dengan logika paling sederhana. Secara kasat mata, setiap kali sadap, mangkok berkapasitas 500 cc biasanya terisi minimal setengah. Namun ketika dihitung dari jumlah produksi dibagi jumlah pohon, rata-rata hanya sekitar 75 cc per pohon,” ujarnya saat berdiskusi dengan tim lapangan di Gubuk Namoraitano Afdeling 2.
Menurutnya, terdapat beberapa kemungkinan yang dapat menyebabkan selisih produksi tersebut, mulai dari potensi pencurian, tidak tembus sadap, hingga prosedur penyadapan yang kurang tepat. Meski demikian, ia menegaskan bahwa setiap laporan tetap harus diverifikasi secara langsung di lapangan.
“Kami senang mendapat laporan bahwa tingkat pencurian di sini tinggal nol koma. Itu artinya aspek ini bukan penyebab kehilangan produksi. Tetapi tolong pastikan bahwa laporan nol koma itu benar,” tegasnya.
Ia juga meminta seluruh unsur pimpinan unit kerja untuk meningkatkan pengawasan secara ketat. Salah satu langkah yang harus rutin dilakukan adalah uji potensi pohon (UPP) untuk memastikan volume getah yang dihasilkan sesuai dengan potensi tanaman.
Menurut Tuhu, pemantauan isi mangkok sadap secara acak sebelum pengutipan dapat menjadi indikator awal untuk memprediksi jumlah lateks yang seharusnya disetor ke perusahaan.
“Isi mangkok itu bisa mencapai sekitar 250 cc. Kalau hanya 75 cc berarti bahkan tidak sampai setengahnya. Padahal umumnya getah sekali sadap bisa mencapai setengah mangkok dari kapasitas 500 cc. Dari situ kita bisa menelusuri lebih jauh penyebabnya,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti kemungkinan tidak tuntasnya kegiatan penyadapan. Dari sekitar 600 pohon dalam satu hancak, penyadap terkadang tidak menyelesaikan seluruh target penyadapan sehingga produksi yang terkutip menjadi lebih rendah.
Untuk itu, Tuhu meminta pengawasan terhadap tembus sadap atau penyadapan tuntas diperketat agar target produksi dapat tercapai sesuai rencana kerja perusahaan (RKAP).
“Dari laporan data di atas kertas ini terlihat masih ada ruang perbaikan untuk meningkatkan produksi. Saya minta seluruh elemen di Kebun Ketahun, juga di kebun lain, menemukan solusi agar target yang kita harapkan bisa tercapai dengan baik,” ujarnya.
Kunjungan kerja Region Head dan Operational Head PTPN I Regional 7 ke Kebun Ketahun merupakan bagian dari rangkaian agenda Safari Ramadan 1447 Hijriah. Dalam kegiatan tersebut, Tuhu Bangun didampingi Operational Head Iyan Heryanto serta sejumlah pejabat manajemen lainnya.
Manajer Kebun Ketahun, Iskandar Muda, menyampaikan apresiasi atas kunjungan dan arahan dari jajaran manajemen. Ia memastikan pihaknya segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja produksi di kebun tersebut.
“Kami segera melakukan evaluasi dan menganalisis berbagai opsi untuk mendapatkan kinerja terbaik. Terima kasih kepada Pak RH dan Pak OH yang telah memberikan motivasi kepada tim kami,” ujar Iskandar.
Selain meninjau Afdeling 2, tim inspeksi juga melakukan pengecekan kondisi tanaman di Afdeling 4 untuk membahas berbagai persoalan lapangan yang berpotensi memengaruhi capaian produksi.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan agenda Safari Ramadan yang diikuti ratusan karyawan dan masyarakat sekitar, meliputi pengajian, santunan anak yatim, serta buka puasa bersama yang dilanjutkan dengan salat Magrib dan Tarawih berjamaah. (***/red)














