iklan
AgamaSUDUT PANDANG

Pelukan Lirboyo: Saat NU Memilih Islah

×

Pelukan Lirboyo: Saat NU Memilih Islah

Share this article

Oleh: Prof. Dr. H. Machasin, MA
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

RAIS Aam (RA) membuka pintu selebar-lebarnya. Dengan hati lapang, beliau mengundang para Mustasyar, sejumlah pengurus Syuriah, dan Ketua Umum PBNU, Gus Yahya (GY). Undangan itu bukan sekadar pertemuan—ia adalah isyarat kuat bahwa ikhtiar mencari jalan keluar masih terus dijaga.

Dalam forum itu, RA memaparkan alasan pemakzulan GY dari jabatan Ketua Umum PBNU: persoalan akidah dan keuangan. GY tidak diam. Dengan tenang ia menyampaikan bantahan, menyuguhkan argumen, sekaligus menegaskan kesediaannya diperiksa kapan saja terkait dua tuduhan tersebut. Ia merasa belum menerima tiga hak yang seharusnya ia dapatkan:
(1) hak untuk membersihkan nama baiknya,
(2) hak keulamaan yang ternodai oleh tuduhan tanpa dasar, dan
(3) hak organisasi yang tercemar akibat keputusan kontroversial itu.

Ketika kesempatan berbicara diberikan kepada Mustasyar, KH. Ma’ruf Amin menghela napas panjang. Beliau menyayangkan bahwa pertemuan RA dan GY berlangsung sangat terlambat. Beberapa hari sebelumnya, PW dan PC telah menarik mandat PBNU dan berencana menggelar Muktamar Luar Biasa (MLB).

Namun seorang Mustasyar lain mencoba menyalakan kembali bara harapan. Meski terlambat, katanya, pertemuan ini tetap berharga: ia menawarkan agar dua tokoh yang sedang berjarak itu berangkulan, meluruhkan perbedaan, dan menyusun Muktamar bersama—Muktamar yang benar-benar legitimate.

Seorang Rais menguatkan gagasan itu. Diikuti seorang Rais lainnya yang dengan suara bergetar mengaku merasa berdosa bila perpecahan ini dibiarkan memecah jamaah NU.
“Bagaimana kita bisa menjawab KH. Hasyim Asy’ari dan para muassis,” ujarnya, “jika perpecahan ini terjadi saat amanah berada di tangan kita?”

Tidak ada yang membantah penjelasan RA, tidak pula sanggahan GY. Yang mengemuka justru satu suara: setuju pada mushāfaḥah dan berangkulan, demi kembali menyatukan NU.

Moderator kemudian membacakan hasil pertemuan Ploso, Tebuireng, dan Musyawarah Kubro Lirboyo—semuanya mendesak islah dan percepatan muktamar.

Di akhir pertemuan, Al-Fātihah bergema bersama. Shalawat melingkupi ruangan. Satu per satu mereka bersalaman, sebagian berangkulan.

Di Lirboyo, pada hari itu, seolah NU memilih jalan terbaiknya: islah.

Terimakasih


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *