PEMBARUAN.ID – Malam di Kotabumi tidak sekadar turun sebagai gelap. Ia datang membawa getaran—pelan, tapi pasti. Seperti ada yang memanggil, mengumpulkan langkah-langkah dari berbagai arah menuju satu titik yang sama: Pondok Pesantren Daarul Khoir.
Sabtu (25/04/2026) malam itu, ruang terasa lebih luas dari biasanya. Bukan karena tempatnya berubah, tapi karena hati yang datang bertambah. Ribuan jamaah diperkirakan hadir. Mereka bukan sekadar angka, melainkan kumpulan harap yang ingin dititipkan lewat sholawat.
Puncak Hari Lahir (Harlah) ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang digelar di Lampung Utara itu menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia menjelma menjadi perjumpaan—antara kader, alumni, santri, keluarga besar Nahdlatul Ulama, hingga masyarakat umum. Semua duduk dalam satu lingkaran rasa: rindu dan doa.
Ketua PC PMII Lampung Utara, Feny Sri Ayu menyebut, jumlah seribu dengan sederhana. Seolah angka itu bukan target, melainkan sesuatu yang memang akan terjadi.
“InshaAllah sekitar seribuan orang hadir mengikuti PMII Bersholawat malam ini,” ujarnya.
Dan benar saja, malam itu ribuan kader dan alumni PMII Lampung larut dalam alunan sholawat kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Suara mereka tidak selalu seragam, tapi menyatu dalam satu cinta yang sama—yang tak perlu disepakati, karena sudah hidup dalam hati masing-masing.
Ini lah yang membedakan puncak Harlah PMII 2026 di Kotabumi Lampung Utara yang bertepatan dengan 1 abad NU. Sebuah momentum yang tidak hanya merayakan usia, tetapi juga merawat ingatan tentang akar dan arah.
Pukul 20.00 WIB, lantunan sholawat dipimpin Gus Ikhsan dari Majelis Al Kautsar. Suara itu mengalir seperti air—menyentuh, mengisi, lalu menenangkan. Tidak ada yang terburu-buru. Semua seperti sepakat untuk tinggal lebih lama dalam suasana itu.
Di antara jamaah, hadir pula sejumlah pejabat daerah, unsur Forkopimda, hingga jajaran pemerintah setempat. Namun malam itu, jabatan seolah melebur. Yang tersisa hanya manusia yang sama-sama menengadah, berharap pada langit yang satu.
“PMII Bersholawat diniatkan sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon keberkahan,” kata Feny.
Ikhtiar—kata yang sederhana, tapi memuat banyak hal: usaha, harapan, dan kepasrahan yang matang.
Ketua Bidang Perkaderan PKC PMII Lampung, Gus Munif Jazuli, mengatakan momentum ini bukan sekadar seremoni, melainkan penguat nilai dan ruh kaderisasi. Sholawat, baginya, adalah jalan untuk menjaga arah—agar gerakan tetap berpijak pada nilai Ahlussunnah wal Jamaah dan tidak tercerabut dari akarnya.
“Para alumni dan senior PMII se-Lampung pun turut hadir. Mereka kembali, bukan untuk bernostalgia semata, tetapi untuk memastikan bahwa nyala itu masih ada—dan terus dijaga,” tuturnya.
Ketua IKA PMII Lampung Utara, Herman Ali pun mengajak seluruh kader dan alumni untuk menjadikan momen ini sebagai ruang memperkuat dzikir dan memohon ridho Allah demi kemajuan daerah.
“Membumikan Sholawat, Merawat Jagad, Membangun Peradaban.”
Kalimat itu menggema, bukan sebagai slogan, tetapi sebagai doa yang diucapkan berulang-ulang.
Dan malam itu, di tengah ribuan suara yang naik perlahan ke langit, mungkin ada satu dua doa yang menemukan jalannya—diam-diam, tapi pasti. (***/red)














