PEMBATUAN.ID — Menjelang usia 90 tahun pada 1 April 2026, sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) Tuan Guru Haji (TGH) Lalu Muhammad Turmudzi Badruddin menyimpan satu harapan besar: melihat Muktamar NU ke-35 digelar di Nusa Tenggara Barat (NTB), tepatnya di Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu yang ia dirikan lebih dari enam dekade lalu.
Meski kondisi kesehatannya menurun karena faktor usia, semangat TGH Turmudzi tak pernah surut ketika berbicara tentang NU—jam’iyah yang dibesarkannya sejak muda. Keinginan tersebut disampaikan secara terbuka kepada sejumlah tokoh NU, termasuk Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhar.
“Beliau ingin Muktamar NU ke-35 diselenggarakan di pondok pesantrennya. Beliau siap menjadi tuan rumah dan melayani para muktamirin,” ujar Suaeb Qury, SH.I, M.Ag, Wakil Sekretaris PWNU NTB, sekaligus Ketua FGKMNU NTB dan Ketua LTN PWNU NTB, Selasa (14/01/2026).
Menurut Suaeb, keinginan tersebut bukan sekadar wacana pribadi. Seorang kyai yang dekat dengan Rais Aam PBNU—dan enggan disebutkan namanya—mengungkapkan bahwa TGH Turmudzi pernah menyampaikan langsung harapan itu dalam pertemuan mereka beberapa waktu lalu.
TGH Turmudzi Badruddin merupakan Mustasyar PBNU dan salah satu kyai NU paling dihormati di kawasan Nusa Tenggara. Lahir di Bagu, Lombok Tengah, pada 1 April 1936, ia mendirikan Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu pada 1 April 1962.
Pesantren ini kini berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam tertua dan terbesar di NTB, menaungi jenjang pendidikan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, serta dilengkapi rumah sakit milik pesantren.
Kedekatan TGH Turmudzi dengan tokoh nasional juga tak diragukan. Almarhum Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dikenal memiliki hubungan personal yang erat dengannya, dan hingga kini berbagai tokoh nasional kerap bersilaturahmi ke kediamannya.
Dari sisi kesiapan teknis, PWNU NTB menilai Ponpes Qomarul Huda sangat layak menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35. Kompleks pesantren yang luas, asrama santri, gedung-gedung pendidikan, hingga fasilitas kesehatan dinilai memadai untuk mendukung pelaksanaan forum tertinggi NU tersebut.
Akses transportasi juga dinilai cukup strategis. Jarak Ponpes Qomarul Huda di Desa Bagu, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah, sekitar 25–30 kilometer dari Bandara Internasional Lombok (Zainuddin Abdul Madjid), dengan waktu tempuh sekitar 45–60 menit.
Sementara itu, fasilitas akomodasi di Kota Praya dan sekitarnya dinilai lebih dari cukup, mulai dari hotel berbintang hingga penginapan sederhana.
Selain kesiapan infrastruktur, dukungan warga NU di NTB menjadi modal utama. Antusiasme masyarakat terlihat kuat, seiring sinyal dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah dan Pemerintah Provinsi NTB.
Bahkan, beredar kabar adanya komunikasi antara pejabat tinggi di Jakarta yang dekat dengan TGH Turmudzi dengan sejumlah tokoh NTB terkait peluang penyelenggaraan Muktamar NU di daerah tersebut.
“Yang paling penting, ini adalah keinginan seorang sesepuh NU. Sudah selayaknya NU menghormati dan menghargai jasa-jasa besar beliau dalam mensyiarkan Islam dan membesarkan jam’iyah NU di Nusa Tenggara,” pungkas Suaeb Qury.
Kini, harapan itu mengalir menjadi doa bersama: agar wasiat seorang kyai sepuh yang mendedikasikan hidupnya untuk NU dapat terwujud di tanah yang ia cintai. (***)














