iklan
AgamaHEADLINENASIONAL

Sowan Para Masyaikh, PBNU Teguhkan Marwah Jam’iyyah

×

Sowan Para Masyaikh, PBNU Teguhkan Marwah Jam’iyyah

Share this article

PEMBARUAN.ID – Di tengah hiruk-pikuk dinamika organisasi dan derasnya arus modernisasi yang terus menantang tradisi, langkah KH Zulfa Mustofa pada Kamis pagi itu tampak berbeda: pelan, terukur, dan sarat pesan. Pejabat Ketua Umum PBNU itu memulai perjalanannya di Surabaya, menuju sebuah ruang yang selama ini menjadi poros moral organisasi: kediaman Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, di Pondok Pesantren Miftachussunnah.

Di balik pintu kayu sederhana yang telah menyaksikan puluhan tahun musyawarah para kiai, pertemuan berlangsung tanpa gegap gempita. Suasana khidmat dan keluargaan justru menjadi penanda bahwa konsolidasi PBNU kerap dimulai dari ruang sunyi semacam ini—ruang di mana tradisi adab dan sanad keilmuan dirawat jauh dari sorotan publik.

“Silaturahmi dan musyawarah dengan Rais Aam adalah adab jam’iyyah,” ujar KH Zulfa Mustofa perlahan. “Di sinilah kita memastikan langkah organisasi tetap berpijak pada tuntunan para ulama.”

Dari Surabaya, rombongan kecil itu bergerak ke timur. Mobil melaju meninggalkan tepian kota, memasuki jalur yang menghubungkan Surabaya–Kediri. Di dalam kendaraan, agenda terjadwal rapi: Ploso, lalu Lirboyo—dua pesantren yang menjadi mata air penting bagi gerak pemikiran dan ruhul jihad Nahdlatul Ulama.

Di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, KH Zulfa bersua KH Nurul Huda Djazuli. Percakapan berlangsung sebagaimana lazimnya sowan ulama: rendah hati, hati-hati, dan lebih banyak mendengar.

Tak ada pernyataan resmi, tak ada wacana menggelegar—justru dari ruang-ruang seperti itulah kekuatan NU terjaga. Di sana, para kiai saling menitipkan pesan tentang keutuhan jam’iyyah, stabilitas organisasi, hingga tantangan sosial-keagamaan yang menunggu di depan.

Rangkaian itu mencapai puncaknya di Lirboyo, salah satu poros besar pesantren di Jawa Timur. Di kediaman KH Kafabihi Mahrus, rombongan PBNU kembali menundukkan kepala, mencium tangan, dan merawat tradisi sowan yang menjadi tulang punggung kultur NU. Tradisi ini, bagi KH Zulfa, bukan sekadar ritual tahunan, melainkan etos yang menjaga marwah organisasi.

“NU dibangun dengan adab, persatuan, dan khidmah,” katanya. “Sowan kepada para kiai adalah ikhtiar menjaga keutuhan jam’iyyah agar NU tetap kokoh membimbing umat.”

Di era ketika organisasi besar kerap terseret hiruk-pikuk politik dan tarik-menarik kepentingan, perjalanan sunyi ini menghadirkan pesan yang lebih lantang dari berbagai rapat formal: bahwa NU, dengan segala kompleksitasnya, tetap bertumpu pada para masyaikh pesantren—pada ruang sowan, pada adab, pada ilmu yang turun-temurun.

Safari kiai ini, meski tanpa sorotan panggung, menjadi peneguhan bahwa PBNU memilih menjaga napas panjangnya lewat tradisi. Dari Surabaya hingga Kediri, dari satu ndalem kiai ke ndalem lainnya, organisasi terbesar di Indonesia itu tengah merawat akar—agar pohon besar bernama NU tetap kokoh menghadapi masa depan. (***/red)


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *