iklan
ARITORIAL

Ketika Sebuah Toga Menutup Luka Dua Dekade

×

Ketika Sebuah Toga Menutup Luka Dua Dekade

Share this article

DUA puluh tahun adalah jarak yang panjang. Cukup panjang untuk menunda mimpi, kehilangan arah, jatuh bangun dalam hidup, bahkan lupa bagaimana rasanya duduk di bangku kuliah dan percaya diri membaca masa depan. Namun, tidak pernah benar-benar cukup panjang untuk mematikan mimpi yang diam-diam masih hidup di dalam dada.

Setelah menyelesaikan S1 dua dekade silam, aku sempat yakin pendidikan tinggi bukan lagi bagian dari perjalanan. Hidup berjalan cepat, peluang berlalu, dan tanggung jawab datang tanpa permisi.

Mimpi melanjutkan studi hanya menggantung di sudut paling sunyi dari pikiran—tidak hilang, hanya dipinggirkan.

Lalu Kamis itu datang. 04 Desember 2025. Hari yang tak pernah kubayangkan akan menjadi babak baru dalam hidupku.

Aku berdiri di auditorium UIN Raden Intan Lampung, mengenakan toga yang terasa asing sekaligus akrab—seperti pakaian lama yang akhirnya kupakai lagi setelah begitu lama disimpan.

Di hadapan para wisudawan, para dosen, dan barisan bangku keluarga, aku mengucapkan Janji Alumni dengan suara yang beberapa kali tercekat.

  • Bahwa aku wajib menjunjung tinggi ajaran Islam.
  • Bahwa aku wajib menjaga akhlak.
  • Bahwa aku wajib mengabdikan ilmu.
    Bahwa aku wajib menjaga nama almamater.
  • Bahwa aku wajib memelihara ukhuwah.

Kalimat-kalimat itu bukan sekadar rangkaian teks seremonial. Bagi seseorang yang menempuh jalan memutar sejauh dua puluh tahun, setiap kata terasa seperti tanda tangan yang ditorehkan langsung ke hati—janji kepada dunia, tapi terutama janji kepada diri sendiri.

Lalu pandanganku jatuh pada sosok yang paling kusayangi: ibu.
Ia duduk di sudut auditorium, tangan kecilnya bergantian menekan dada dan menyeka sudut mata. Senyum itu… ah, aku hafal benar.

Itu senyum yang muncul setiap kali aku berhasil melewati sesuatu yang pada awalnya ia sendiri takut kujajal.
Tak ada kebanggaan yang lebih besar dibanding melihat ibu tersenyum sambil menahan haru. Tidak ada. Karena bagiku, wisuda ini bukan sekadar tentang gelar. Ini tentang seorang ibu yang menunggu terlalu lama untuk melihat anaknya berdiri tegak—di podium, di hidupnya, di jalannya sendiri.

Dan saat toga itu diletakkan di kepala, aku merasa ada sesuatu yang akhirnya selesai.
Seperti luka dua dekade yang perlahan mengering.
Seperti janji lama yang akhirnya kutepati.

Seperti pintu yang akhirnya kututup, agar aku bisa membuka pintu lain dengan lebih tenang. Hari itu aku pulang bukan hanya sebagai seorang magister. Aku pulang sebagai seseorang yang menemukan keberaniannya kembali.

Dan mungkin benar, seperti yang sering dikatakan orang-orang bijak:
Beberapa mimpi memang datang terlambat—tapi mereka selalu datang tepat waktu bagi siapa pun yang terus berjalan.

Tabik


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ARITORIAL

ANJIR! Begitu anak muda hari ini mengungkapkan kekagumannya,…