Oleh: Ariyadi Ahmad
DI antara deru becak yang melintas di Jalan Slamet Riyadi dan aroma wedang ronde yang mengepul di sudut-sudut kota, Surakarta menyimpan jejak seorang pendekar pena: Mahbub Djunaidi. Ia bukan sekadar wartawan atau sastrawan—melainkan penulis yang menjadikan kata-kata sebagai senjata perjuangan. Di kota inilah, benih pena perjuangannya mulai tumbuh.
Jejak itu terekam dalam buku Dari Hari ke Hari (1975), kumpulan esai reflektif yang mengisahkan lintasan hidup Mahbub—dari masa kanak-kanak hingga perannya sebagai jurnalis dan politisi.
Dalam salah satu bagiannya, Mahbub menulis bagaimana keluarganya harus meninggalkan Jakarta akibat agresi militer Belanda dan menetap sementara di Solo. Di kota budaya ini, Mahbub kecil belajar tentang kehidupan, pendidikan, dan perlawanan yang halus lewat kata.
Ia bersekolah di SD Muhammadiyah dekat Masjid Mangkunegaran, kemudian pindah ke SD Negeri 27 Kauman. Seusai jam sekolah formal, Mahbub memperdalam ilmu agama di Madrasah Mamba’ul Ulum, di bawah asuhan Kiai Amir Chamzah—seorang ulama kharismatik di wilayah Kauman.
Dari lingkungan religius dan intelektual itulah, Mahbub mulai mengenal tradisi berpikir kritis dan dialogis. Ia belajar menimbang gagasan, memandang kehidupan dengan kepekaan sosial, dan melatih keluwesan logika yang kelak menjadi ciri khas tulisannya.
Solo, dengan segala dinamika sosial dan budayanya, membentuk Mahbub menjadi sosok yang luwes berpikir dan tajam menulis. Di kota ini pula ia belajar bahwa kebenaran tidak selalu harus diteriakkan; kadang cukup disampaikan dengan sindiran elegan. Kelak, gaya menulisnya yang ringan, jenaka, tapi sarat makna itu menjelma menjadi ciri khas Mahbub Djunaidi—baik dalam kolomnya di Kompas maupun tulisan-tulisan politiknya yang menggigit.
Namun perjalanan mencari jejak Mahbub di Surakarta tak selalu mudah. Penulis mencoba menapaki kembali jejak sang pendekar pena itu, menelusuri gang-gang Kauman, sekolah lamanya, hingga akhirnya berhenti di Monumen Pers Nasional—gedung bersejarah yang menjadi saksi lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946.
Bangunan di Jalan Gajah Mada itu awalnya bukan museum. Pada 1918, gedung ini dikenal sebagai Societeit Sasana Soeka, tempat berkumpulnya orang-orang Eropa untuk berdansa, bermain musik, dan berbincang santai di tengah suasana kolonial Hindia Belanda. Setelah proklamasi kemerdekaan, sejarah berputar. Gedung itu berubah fungsi menjadi ruang pertemuan kaum pergerakan dan wartawan republik muda.
Di sinilah, dalam semangat revolusi, para wartawan dari berbagai daerah berkumpul menyatukan suara: menegakkan kebebasan pers Indonesia. Dari peristiwa itu lahirlah PWI, dan tanggal 9 Februari kelak diperingati sebagai Hari Pers Nasional.
Tahun 1971, Pemerintah Kota Surakarta menyerahkan gedung ini kepada Departemen Penerangan RI, dan tujuh tahun kemudian—tepat 9 Februari 1978—Presiden Soeharto meresmikannya sebagai Monumen Pers Nasional. Sejak saat itu, bangunan bersejarah ini menjelma menjadi rumah bagi kenangan panjang dunia jurnalistik Indonesia.
Memasuki ruang dalamnya, suasana seakan mengembalikan kita pada masa ketika kata-kata adalah alat perjuangan. Deretan surat kabar tua tersusun rapi di lemari kaca: Soeara Oemoem, Merdeka, Abadi, hingga Kompas edisi awal.
Ada pula mesin cetak tua dari masa revolusi, pena logam wartawan senior, dan foto-foto hitam putih para tokoh pers: R.M. Tirto Adhi Soerjo, Djamaluddin Adinegoro, hingga Mahbub Djunaidi—wajahnya terpampang di antara barisan tokoh legendaris itu.

Namun, dari penelusuran itu, tidak banyak catatan khusus mengenai masa Mahbub di Solo. Koleksi tentangnya hanya berupa beberapa kolom lama yang pernah terbit di Kompas dan foto dokumentasi kegiatan jurnalistiknya. Ironis, sebab Monumen Pers yang berdiri di kota tempat Mahbub pernah menimba ilmu justru belum sepenuhnya menarasikan perjalanan sang pendekar pena ini.
Meski begitu, Surakarta tetap menyimpan ingatan tersendiri tentang Mahbub. Di antara debur lalu lintas dan alunan gamelan yang tak pernah padam, nama Mahbub Djunaidi tetap bergema lembut di ingatan pers Indonesia—seorang anak Solo yang tumbuh menjadi juru bicara nurani bangsa.
Ia pernah hidup di sini, berjalan di jalan-jalan yang kini dilalui generasi muda yang mungkin tak tahu siapa dia. Tapi setiap kali seseorang menulis dengan keberanian dan kelucuan yang menggigit, mungkin di situlah jejak sang pendekar pena masih hidup: dalam semangat, dalam kata.
Wallahu’alam…








