iklan
DUNIA KAMPUSPENDIDIKANUIN RIL

Sejarawan UIN RIL: Pelaut Nusantara Kembali ke Panggung Utama

×

Sejarawan UIN RIL: Pelaut Nusantara Kembali ke Panggung Utama

Share this article

PEMBARUAN.ID – Forum tahunan A.B. Lapian Memorial Lecture kembali digelar tahun ini sebagai bentuk penghormatan terhadap Prof. Adrian Bernard Lapian, pelopor historiografi maritim Indonesia.

Mengusung tema “Laut sebagai Ruang Ingatan dan Perubahan: Warisan A.B. Lapian untuk Masa Depan Maritim yang Berkeadilan,” forum ini membuka ruang diskusi tentang laut sebagai sumber sejarah, identitas, sekaligus ruang perubahan sosial-ekonomi bagi masyarakat maritim Nusantara.

Acara berlangsung pada Selasa, 23 September 2025, pukul 09.00–12.00 WIB, secara hybrid dari Gedung Widya Graha BRIN serta melalui Zoom (ID: 968 4165 7323, Password: IFSR2025).

Salah satu narasumber, Dr. Abd. Rahman Hamid, memaparkan kajian pergeseran komoditas dari rempah ke teripang (abad ke-18–19) hingga kopra (akhir abad ke-19 hingga abad ke-20).

Menurutnya, perubahan ini bukan sekadar pergantian komoditas di jalur lama, tetapi bukti nyata peran pelaut dan pedagang Indonesia yang selama ini terabaikan dalam historiografi perdagangan dan jalur rempah, yang cenderung menempatkan bangsa Eropa sebagai aktor utama.

Dr. Abd –begitu ia biasa disapa– menyoroti tiga hal utama: Pertama, peran pelabuhan Makassar sebagai entrepôt penting dalam perdagangan kopra. Kedua, pemanfaatan peluang perdagangan oleh masyarakat bahari untuk meningkatkan kesejahteraan. Ketiga, tantangan yang dihadapi dalam dinamika perdagangan maritim kopra.

Kajian tersebut didukung penelitian arsip di BPAD Sulawesi Selatan, Arsip Nasional RI, dan Perpustakaan Nasional RI, serta observasi lapangan melalui wawancara dengan pelaut Buton (2007, 2010, 2015) dan pelaut Mandar (2015–2018, 2022).

Dalam kesimpulannya, Dr. Abd menyebut bahwa pergeseran dari rempah ke kopra pada akhir abad ke-19 merupakan strategi mempertahankan aktivitas pelayaran niaga. Namun, perdagangan kopra membawa dua konsekuensi.

“Nembuka jalan kesejahteraan sekaligus menghadirkan kesengsaraan bagi masyarakat yang terlibat dalam produksi dan distribusinya,” jelas dia.

Selain Dr. Rahman, hadir pula Dr. Didik Pradjoko yang memberikan perspektif tambahan tentang warisan pemikiran A.B. Lapian dan relevansinya dalam membangun masa depan maritim Indonesia yang berkeadilan.

Acara ini terselenggara berkat kolaborasi Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN, Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN, serta Yayasan Negeri Rempah, dan menjadi bagian dari rangkaian International Forum on Spice Route (IFSR) 2025. (***/red)


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *