iklan
DUNIA KAMPUSUNILA

Dekan Diduga Lindungi Pelaku Kekerasan, Mahasiswa FEB Unila Gelar Aksi

×

Dekan Diduga Lindungi Pelaku Kekerasan, Mahasiswa FEB Unila Gelar Aksi

Share this article

PEMBARUAN.ID – Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung (FEB Unila) mengguncang pelataran dekanat dengan suara lantang dan tuntutan tegas. Di bawah panji Aliansi FEB Menggugat, mereka menuding Dekan FEB telah melindungi pelaku kekerasan dan melanggengkan praktik pembungkaman terhadap korban.

Aksi ini bukan sekadar protes—ini adalah perlawanan terhadap sistem yang dianggap tidak lagi berpihak pada keadilan. Dimulai sejak pukul 08.00 WIB, massa berkumpul dan mulai bergerak menuju pelataran dekanat pada pukul 10.00 WIB. Mereka datang membawa amarah yang dibangun dari luka kolektif: luka karena dikhianati oleh institusi yang seharusnya melindungi.

Puncak dari kemarahan ini adalah dugaan pembiaran terhadap kekerasan dan intimidasi yang dilakukan oleh oknum organisasi kemahasiswaan (Ormawa) di FEB. Korban tidak hanya mengalami kekerasan fisik dan psikis, tetapi juga tekanan yang sistematis agar bungkam. Dekanat, yang seharusnya menjadi garda etika, justru dinilai berdiam diri.

“Ini bukan sekadar soal pelanggaran etika, ini soal nyawa, soal mental, soal masa depan korban. Kami punya rekam medis, pernyataan keluarga, hingga bukti digital. Tapi hingga kini, tidak ada satu pun langkah tegas dari Dekanat. Mereka diam, dan diamnya itu berarti perlindungan bagi pelaku,” tegas M. Zidan Azzakri, Jenderal Lapangan aksi.

Aliansi FEB Menggugat menyampaikan empat tuntutan utama:

1. Membubarkan Ormawa yang terbukti melakukan kekerasan dan pelanggaran etik;

2. Mengadili pelaku sesuai hukum dan kode etik kampus;

3. Melakukan klarifikasi publik secara terbuka dan bertanggung jawab;

4. Menghentikan intimidasi dan pembungkaman terhadap korban dan pihak yang bersuara.

Sekitar pukul 10.30 WIB, perwakilan massa bertemu langsung dengan Dekan, Wakil Dekan I, dan Wakil Dekan III. Namun, pertemuan itu dinilai nihil hasil. Dekanat menolak menandatangani Pakta Integritas—dokumen yang dimaksudkan sebagai komitmen moral terhadap tuntutan mahasiswa.

“Penolakan itu adalah bukti nyata bahwa pihak fakultas tidak serius menyelesaikan masalah. Ini bukan hanya soal kebijakan, ini soal keberpihakan: berpihak pada korban atau pada pelaku?” lanjut Zidan.

Tak berhenti di kasus kekerasan, massa juga menyuarakan keresahan atas transparansi keuangan, evaluasi menyeluruh terhadap staf fakultas, dan perbaikan fasilitas akademik yang dinilai tertinggal—khususnya di Gedung F yang minim sarana belajar.

Aksi ditutup pada pukul 12.00 WIB tanpa hasil konkret. Namun, semangat mahasiswa belum padam. Mereka menyatakan akan menggelar aksi lanjutan dengan skala yang lebih besar dalam waktu dekat. Seluruh elemen mahasiswa Unila diajak bergabung dalam gerakan moral ini.

“Kami tahu ini akan sulit, tapi kami tidak akan mundur. Dekan FEB Unila harus bertanggung jawab. Ini bukan sekadar perjuangan mahasiswa FEB, ini perjuangan untuk seluruh wajah keadilan di kampus ini,” pungkas Zidan. (red)


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *