Angkat Isu Gerakan Rumah Ibadah Hijau
PEMBARUAN.ID – Pegiat Kelompok Studi Kader (KLASIKA) Lampung, Eka Febriani, terpilih sebagai perwakilan Lampung dan Sumatera dalam Sekolah Jagat Beasiswa Leadership bagi Pemimpin Muda Lintas Agama. Program yang diselenggarakan oleh Jaringan Gusdurian ini berlangsung di Wisma Kinasih, Depok, pada 13–16 Februari 2025.
Eka, yang juga aktif sebagai penggerak Gusdurian Lampung dan anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), berhasil lolos seleksi melalui proposal prototipe bertajuk Gerakan Rumah Ibadah Hijau. Proposal ini menyoroti permasalahan lingkungan di Bandar Lampung, terutama banjir yang semakin sering terjadi akibat buruknya sistem drainase, berkurangnya daya serap tanah, serta meningkatnya volume sampah yang tidak terkelola dengan baik.
“Bandar Lampung menghadapi permasalahan lingkungan yang semakin kompleks. Pada 17–18 Januari 2025, banjir besar melanda kota ini, mengakibatkan lebih dari 14.000 rumah terdampak dan sekitar 11.000 warga menjadi korban,” ujar Eka Febriani, Sabtu (15/2).
Ia menambahkan bahwa banyak rumah ibadah—seperti masjid, gereja, dan vihara—digunakan sebagai tempat pengungsian sementara bagi warga terdampak. Namun, beberapa di antaranya juga ikut terendam, termasuk Vihara Bodhisattva dan mushola di Pesawahan, Kecamatan Telukbetung Selatan, serta beberapa masjid di Way Lunik, Kecamatan Panjang.
Gerakan Rumah Ibadah Hijau: Integrasi Spiritualitas dan Aksi Lingkungan
Sebagai respons terhadap situasi tersebut, Eka menggagas Gerakan Rumah Ibadah Hijau, sebuah solusi berbasis komunitas yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan aksi lingkungan. Gerakan ini bertujuan menjadikan rumah ibadah sebagai pusat konservasi lingkungan dan ketahanan terhadap bencana melalui penghijauan lahan sekitar rumah ibadah.
“Salah satu langkah konkret yang akan dilakukan adalah menanam pohon dan tanaman yang dapat membantu penyerapan air, mengingat hampir seluruh halaman rumah ibadah di Bandar Lampung sudah dipaving,” jelas Eka.
Ia menekankan bahwa rumah ibadah memiliki peran strategis dalam gerakan lingkungan. Dengan jumlah jamaah yang besar dan keterikatan emosional yang kuat, rumah ibadah dapat menjadi agen perubahan dalam meningkatkan kesadaran dan aksi nyata terhadap isu lingkungan.
Konsolidasi Gerakan Toleransi dan Ekologi
Terkait Sekolah Jagat, Eka menjelaskan bahwa program ini merupakan ruang belajar dan konsolidasi gerakan bagi penggerak Gusdurian yang fokus pada toleransi dan ekologi.
“Selama program ini, kami diajak untuk menggali pengalaman gerakan, mengembangkan potensi diri, membangun komunitas dan jejaring, serta merancang langkah nyata untuk mewujudkan keadilan ekologi, baik di daerah masing-masing maupun dalam skala lebih luas,” ungkapnya.
Program Sekolah Jagat Beasiswa Leadership berlangsung selama enam bulan dengan kombinasi kegiatan luring dan daring. Sesi di Depok menjadi tahap awal yang dilakukan secara tatap muka, sementara mentoring daring akan berlangsung mulai Maret hingga Agustus 2025.
“Program ini berfokus pada pemimpin muda yang memiliki visi jernih terkait keadilan ekologi dan kesadaran akan peran mereka dalam perubahan sosial. Kami juga didorong untuk memiliki tekad yang kuat dan daya juang belajar yang tinggi,” tutup Eka. (sandika)














