iklan
PEMILUSUDUT PANDANG

Menilik Sukses Pilkada Ardito dan Bambang: Mengalahkan Koalisi Gemuk

×

Menilik Sukses Pilkada Ardito dan Bambang: Mengalahkan Koalisi Gemuk

Share this article

PEMBARUAN.ID – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 di Lampung mencatatkan dua kemenangan mencolok di tengah dominasi koalisi besar. Ardito Wijaya dan I Komang Koheri (Lampung Tengah) serta Bambang Iman Santoso dan Rafieq Adi Pradana (Kota Metro) sukses memenangi kontestasi meski hanya diusung oleh satu partai parlemen, PDIP dan Demokrat.

Kemenangan ini menjadi sorotan karena keduanya berhasil mengalahkan rival dengan dukungan koalisi partai besar, sekaligus mengungkap faktor kunci keberhasilan kampanye yang efektif dan relasi sosial yang kuat.

Ardito-Komang: Strategi dan Relasi Sosial Solid

Di Lampung Tengah, Ardito Wijaya dan I Komang Koheri meraih kemenangan signifikan berdasarkan hasil hitung cepat (quick count), dengan perolehan 64,49% suara. Pasangan ini unggul atas petahana Musa Ahmad dan Ahsan, yang didukung oleh koalisi besar namun hanya memperoleh 35,51%.

Menurut pengamat politik Universitas Lampung, Dermawan Purba, kekuatan akar rumput dan konsolidasi sosial menjadi kunci kemenangan Ardito-Komang.

“Meski secara formal PKB tidak mendukung, Ardito tetap memiliki hubungan kuat dengan massa NU dan PKB di Lampung Tengah. Itu adalah modal politik yang sangat penting,” jelas Dermawan.

Selain itu, kampanye yang masif melalui berbagai media, mobilisasi relawan, serta simpati terhadap sosok Ardito sebagai mantan Wakil Bupati turut mendongkrak elektabilitasnya. Persoalan domestik yang dihadapi Musa Ahmad juga memberikan keuntungan tambahan bagi Ardito-Komang.

Bambang-Rafieq: Mengungguli Petahana dengan Dukungan Tunggal Demokrat

Di Kota Metro, pasangan Bambang Iman Santoso dan Rafieq Adi Pradana yang diusung Demokrat berhasil mengalahkan petahana Wahdi-Qomaru, yang didukung oleh koalisi besar dari semua partai parlemen kecuali Demokrat.

Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Lampung, Candrawansah, menilai kemenangan Bambang-Rafieq dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, salah satunya adalah persoalan hukum yang menyeret Qomaru Zaman.

“Kasus hukum Qomaru membuat fokus kampanye Wahdi-Qomaru terganggu. Selain itu, pengumuman masif tentang status Qomaru di TPS turut memengaruhi persepsi negatif masyarakat,” ungkap Candra.

Ia juga menyebut bahwa partai pengusung Wahdi-Qomaru kurang maksimal dalam kampanye dan sosialisasi kepada masyarakat. Hal ini memberikan ruang lebih besar bagi pasangan Bambang-Rafieq untuk merebut hati pemilih.

Fenomena Calon Tunggal Partai

Keberhasilan Ardito-Komang dan Bambang-Rafieq menunjukkan bahwa dukungan koalisi besar bukan jaminan kemenangan. Modal sosial yang kuat, strategi kampanye yang matang, serta relasi personal yang baik dengan pemilih justru menjadi kunci utama dalam Pilkada.

Hasil ini sekaligus memberikan pelajaran bahwa keberpihakan masyarakat tidak selalu ditentukan oleh jumlah partai pengusung, melainkan oleh kemampuan kandidat untuk menjangkau kebutuhan pemilih secara langsung.

Meski hasil resmi masih menunggu rekapitulasi dari KPU, kemenangan Ardito-Komang dan Bambang-Rafieq dalam quick count sudah memberikan gambaran perubahan peta politik di Lampung. (sandika)


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *