PEMBARUAN.ID – Belakangan ini, dinamika politik di Bumi Ruwa Jurai bergejolak dengan ritme yang nyaris tak terduga. Isu kotak kosong baru saja mencuat, diiringi dengan desas-desus iming-iming posisi dari Koalisi Indonesia Maju (KIM) untuk mantan Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi.
Namun, tanpa diduga, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memberikan rekomendasi mengejutkan: Arinal dan Sekretaris DPD PDIP Lampung, Sutono, untuk maju dalam Pilgub Lampung 2024.
Keputusan ini tentu mengagetkan publik. Arinal bukan sekadar kader biasa, ia adalah sosok sentral di Partai Golkar, partai dengan akar kuat di Lampung.
Langkah PDIP ini menimbulkan pertanyaan besar—apa yang sebenarnya terjadi di balik layar politik?
Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat menegaskan, langkah tersebut diambil demi mengembalikan hak rakyat atas demokrasi. Namun, apakah alasan tersebut cukup meyakinkan?
“Ya, untuk Lampung kita (PDIP) ke Arinal. Kita selamatkan. Kita tidak ingin kotak kosong. Apa itu?” ujar Djarot kepada pembaruan.id di seputaran Hyatt Regency Hotel, Yogyakarta, Rabu (28/08/2024) malam.
Nada tegas Djarot seolah mencoba menutup celah kritik. Namun, bagi para pengamat, pernyataan ini menyisakan tanya. Apakah benar ini demi kepentingan rakyat, atau ada agenda lain yang sedang dimainkan?
Di sisi lain, Umar Ahmad, yang sebelumnya telah menyatakan niatnya maju di Pilgub Lampung, kini seolah tenggelam dalam gelombang dinamika politik.
Ketika ditanya tentang posisi Umar, Djarot dengan singkat menjawab, “Namanya politik. Dinamikanya cepat.” Jawaban yang, bukannya menenangkan, malah membuka ruang spekulasi lebih luas.
Misi menyelamatkan demokrasi dari isu lawan kotak kosong, dengan manuver ini, menjadi bukan hanya soal memenangkan pemilihan, tetapi juga soal mengembalikan kepercayaan publik.
Pertanyaan yang tersisa: Apakah langkah PDIP ini benar-benar untuk menyelamatkan demokrasi, atau sekadar permainan politik yang penuh kalkulasi?
Obrolan singkat dengan Djarot setidaknya mempertegas komitmen PDIP kepada masyarakat, jika partai ini tetap pada koridornya sebagai partai yang tidak pernah kosong dari ide perlawanan. (red)














