PEMBARUAN.ID – Mata Gunawan Wicaksono perlahan-lahan melirik jam di pergelangan tangannya, Kamis (29/08/2024). Angka-angka digitalnya sudah mendekati pukul dua belas siang, mendekati waktu makan siang.
Kantuk para audiens mulai menggoda. Saya duduk di kursi ketiga dari tempat fotografer propesional itu menyampaikan materinya, menahan kantuk yang mulai menumpuk sejak pagi tadi. Hotel Grand Hyatt Regency Yogyakarta, dengan segala kemewahannya, seolah ikut merayu mata untuk terpejam sesaat.
Di depan audiens yang mayoritas insan media dan migas, Gunawan mencoba menjaga fokus. Sebagai seorang fotografer jurnalistik dan redaktur foto di Tempo, ia sadar bahwa ada tanggung jawab besar di pundaknya untuk menyampaikan pesan penting ini.
Dengan suara yang tegas namun tenang, Gunawan mengingatkan kembali betapa pentingnya seorang fotografer jurnalistik untuk menguasai berbagai bidang. Bukan sekadar soal menangkap momen, namun lebih dari itu, seorang fotografer harus memahami aturan yang berlaku di tempat acara berlangsung.
Tidak cukup hanya dengan membawa kamera dan lensa terbaik, tetapi juga harus bisa memotret dengan efektif dan efisien.
“Memotretlah dengan tenang,” ucapnya, mencoba mengendalikan fokus audiens yang sedang melawan rasa kantuk yang semakin menjadi.
“Optimalkan segala teknik dan elemen yang kita miliki untuk memperkuat hasil foto. Perhatikan ekspresi dan bahasa tubuh subjek foto,” ujarnya di hadapan audiens Temu Insan Media dan Migas (Timnas) itu.
Dalam setiap jepretan, Gunawan percaya bahwa fotografer adalah sutradara di balik layar. Sebuah foto bukan hanya hasil dari kebetulan, tapi buah dari sebuah perencanaan matang, pengaturan angle yang pas, dan pemahaman mendalam terhadap subjek yang diabadikan.
Terdengar suara-suara perut yang mulai berkeroncong di ruangan itu, mengingatkan bahwa waktu makan siang sudah semakin dekat. Namun, Gunawan tetap melanjutkan pesannya, menyadari betul bahwa apa yang disampaikannya bukan sekadar teori, tapi sesuatu yang bisa mengubah cara pandang mereka yang mendengarkan.
Ia menutup presentasinya dengan sebuah senyum, seolah ingin menegaskan bahwa meski rasa kantuk masih menggelayut, tugas seorang fotografer jurnalistik tidak pernah mengenal kata lelah.
Sebuah senyum yang menunjukkan bahwa di balik lensa, ada cerita-cerita yang harus disampaikan kepada dunia, dan seorang fotografer adalah mata yang melihat semua itu. (red)














