Kolega dan Sahabat Gelar Doa Bersama
PEMBARUAN.ID – Pesawat yang membawa Politisi Partai Demokrat Andi Arief berangkat meninggalkan tanah air, membawa serta harapan dan doa-doa yang mengiringi langkahnya. Dia pergi untuk satu hal yang tak pernah ia sangka sebelumnya: bertaruh hidup demi melanjutkan hidup.
Di balik kabin pesawat, barangkali terlintas banyak ingatan tentang hari-hari yang terlewati. Hari-hari di mana politik menjadi panggung kehidupannya, di mana suara rakyat menjadi haluan langkahnya.
Jansen Sitindaon, sahabat sekaligus rekan seperjuangan di Demokrat, mengungkapkan permintaan yang sederhana namun penuh makna: doa. Sebuah kata yang mungkin terdengar biasa, tetapi kali ini berat dan sarat arti.
“Mohon doanya untuk abang kami, Bang Andi Arief,” katanya lirih, mencoba menyatukan kepingan-kepingan harapan dalam untaian kata.
Dulu, Andi dikenal sebagai sosok yang lantang, seorang Komisaris Independen yang punya prinsip dan tak gentar bersuara. Tapi kali ini, ia harus mengalahkan musuh yang tak terlihat.
Putra sulungnya, Fazle Merah Maula, tak ragu menawarkan hati sebagai simbol kasih yang tak ternilai harganya. Pengorbanan seorang anak, yang membawa sebuah harapan baru bagi ayahnya.
India, sebuah negeri yang asing baginya, kini menjadi tujuan baru. Tempat di mana hidupnya akan diuji kembali. Sebelumnya, Singapura menjadi tumpuan, namun penantian yang panjang membuat keputusan diambil. Andi Arief memilih India, tempat di mana harapan bisa lebih cepat terwujud, dengan doa-doa yang tak pernah terputus.
Di sudut lain negeri ini, di Lampung, teman-teman dan sahabat-sahabat lama tak henti berdoa. Yozi Rizal, yang pernah berjuang di masa reformasi bersama Andi, dengan lantang memohon dukungan dan doa dari semua yang mengenal sosoknya.
Bagi mereka, Andi bukan hanya politisi atau aktivis; ia adalah bagian dari perjuangan panjang untuk negeri ini.
“Beliau adalah salah satu tokoh bangsa,” kata Yozi.
Kata-kata itu tak pernah terdengar seberat ini. Di balik doa yang diucapkan, terselip keyakinan bahwa harapan itu tak akan pupus.
Andi Arief, mungkin tengah bertaruh nyawa di atas meja operasi, namun di sini, doa-doa untuknya terus bergemuruh, mengalir hingga ke ujung cakrawala, menyatu dengan harapan seluruh bangsa. (sandika/red)














