Penitia Tek Dengarkan Keluhan
PEMBARUAN.ID – Teknologi seharusnya memudahkan hidup kita, menjadikan dunia semakin dekat dan terhubung. Namun, dalam kemeriahan ajang Porwanas 2024 di Kalimantan Selatan, para atlet e-sport justru dihadapkan pada kenyataan pahit: koneksi internet yang buruk.
Seorang pemain PUBG dengan nickname LAMPUNGxBENZ menjadi saksi hidup betapa frustrasinya situasi ini. Timnya telah mencoba berbagai provider, berganti-ganti jaringan, namun hasilnya tetap sama—koneksi yang mengecewakan.
“Semua provider sudah kita coba, tapi tetap buruk. Ini merugikan kita. Tuan rumah tentu diuntungkan karena sudah faham dan tau solusinya,” kata dia.
Keluhan serupa juga datang dari seorang atlet asal Jawa Barat. Di tengah ketegangan permainan yang membutuhkan konsentrasi penuh dan strategi matang, mereka malah harus bergulat dengan koneksi internet yang tidak stabil.
Meski sudah mencoba semua opsi jaringan yang tersedia, hasilnya tetap tak memuaskan. Usaha mereka untuk bertanding secara maksimal seolah terhalang oleh musuh tak kasat mata—sinyal yang lemah.
Namun, permasalahan tidak berhenti pada jaringan internet saja. Seorang atlet Mobile Legends asal Bandung itu mengungkapkan kekecewaannya terhadap fasilitas yang disediakan panitia.
Dengan nada getir, ia menceritakan bagaimana layar besar telah dipasang untuk penonton, namun tanpa speaker yang memadai.
“Lucu, ya. Ada layar besar di depan penonton, tapi suaranya tidak terdengar. Bagaimana kita bisa merasakan euforia pertandingan jika suaranya saja tidak ada?” keluhnya, memilih untuk tetap anonim.
Di balik layar monitor dan koneksi internet, ada manusia-manusia yang berjuang dalam keheningan. Mereka bukan sekadar nickname di layar atau angka di papan skor.
Mereka adalah pejuang digital, berharap agar setiap elemen penunjang mendukung perjuangan mereka. Sayangnya, seringkali harapan itu terbentur realita yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Dalam dunia e-sport yang serba cepat dan kompetitif, ketidakpastian ini adalah penghalang terbesar yang harus mereka hadapi.
Keluhan terkait buruknya jaringan berkali-kali disampaikan. Sayangnya, panitia menyerahkan solusi kepada pemain dan official.
Di match terahir tim PUBG Lampung harus puas peringkat III (Medali Perunggu) dengan perolehan 71 poin di bawah Kaltim dan Kalsel. Prolehan poin maksimal diraih tim PUBG Lampung di dua match terahir dengan Winner Chicken Dinner. (***)














