iklan
HEADLINEHiburan

Dipulaju Andahmu: Luka, Nada, dan Perlawanan

×

Dipulaju Andahmu: Luka, Nada, dan Perlawanan

Share this article

PENBARUAN.ID – Terik matahari Lampung boleh saja memanggang aspal, tetapi tidak dengan nyali Putra Ramadhan. Anak muda ini tidak turun dengan senjata, melainkan dengan sesuatu yang lebih sunyi namun tajam: sebuah lagu.

Setelah “Penyampai Khasa” lebih dulu mencuri perhatian publik dan beredar luas di layar ponsel, Putra memilih tidak larut dalam euforia viral. Baginya, popularitas hanyalah persinggahan. Yang ia kejar adalah jejak yang lebih dalam—akar yang menancap kuat dalam budaya. Dari situ lahir karya terbarunya, “Dipulaju Andahmu.”

Judulnya terdengar getir. Ia berbicara tentang pengkhianatan dan kebohongan. Namun lagu ini tidak berhenti sebagai keluhan personal. Di tangan Putra, ia menjelma menjadi pernyataan sikap—bahwa musik bisa menjadi medium perlawanan terhadap lupa.

Di balik proses kreatifnya, Putra tidak bekerja sendiri. Bersama Kimas Muda, ia meramu komposisi yang memadukan bahasa Lampung dengan aransemen pop modern. Strateginya jelas: menjaga warisan tanpa menjadikannya benda mati di museum.

Pendekatan ini menyasar lintas generasi. Dari mereka yang merindukan nuansa lama, hingga generasi muda yang akrab dengan ritme digital dan media sosial. Musik dijadikan jembatan, bukan sekadar hiburan.

“Musik adalah cara kami bicara,” ujar Putra. Nada bicaranya tegas, lebih menyerupai tekad ketimbang promosi.

Kolaborasi menjadi bagian penting dari langkah ini. Nama-nama seperti Ade Nisa (Ratu Nisa) turut hadir, membawa dimensi visual dan simbolik dalam video klip. Begitu pula Irlan Kartadilaga, yang memperkuat pesan kolektif bahwa identitas Lampung bukan sekadar ornamen, melainkan sesuatu yang hidup dan layak diperjuangkan.

Di belakang layar, Amba Musik mengambil peran dalam distribusi dan pengelolaan karya. Mulai dari hak cipta hingga sistem agregator, upaya ini diarahkan agar musisi lokal tidak hanya berkarya, tetapi juga berdaya secara ekonomi. Ini bukan gerakan spontan, melainkan langkah yang disusun dengan kesadaran industri.

Kimas Muda menegaskan ambisi mereka: musik Lampung harus naik kelas. Tidak lagi dipandang sebagai pelengkap acara lokal, melainkan mampu berdiri sejajar di panggung nasional.

“Lagu Lampung harus jadi kebanggaan, bukan sekadar latar,” ujarnya.

Pada akhirnya, “Dipulaju Andahmu” melampaui fungsi sebagai karya musik. Ia menjadi penanda sebuah pergerakan—tentang anak muda yang memilih berinovasi tanpa tercerabut dari akar.

Di tengah arus tren yang serba cepat dan instan, Putra Ramadhan memancang sikap: bahwa lagu daerah tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga harus terus menyala.

Lampung, lewat nada-nada itu, sedang bergerak. (***/red)


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *