Oleh: NOVERISMAN SUBING
Ketua PW IKA PMII Lampung
SEUSAI salat subuh pagi itu, rutinitas saya berjalan seperti biasa—membuka gawai, menyusuri pesan-pesan yang berderet di layar kecil yang tak pernah benar-benar sepi. Dari kabar pribadi yang masuk satu per satu, hingga puluhan grup yang seakan berlomba mengabarkan dunia dalam genggaman.
Namun pagi itu berbeda. Di antara lalu lintas pesan yang biasa, saya terhenti. Di dua grup—IKA PMII Lampung dan Paguyuban DPRD Lampung—kalimat-kalimat duka berderet rapat. Nama yang disebut berkali-kali itu seperti mengetuk pelan, lalu menghantam kesadaran: H. A. Munzir Ahmad Syukri telah berpulang.
Saya terperanjat. Bukan sekadar kehilangan seorang tokoh, tetapi kehilangan seorang guru—yang diam-diam telah membentuk jalan hidup banyak orang, termasuk saya.
Kiai Munzir—begitu kami memanggilnya—bukan hanya mantan Ketua Umum PMII Lampung periode 1987–1988. Ia adalah penanda sebuah fase, sebuah pintu masuk bagi banyak kader muda mengenal dunia pergerakan. Saya masih ingat betul, dari sebuah kegiatan Mapaba di Wisma Bandar Lampung tahun 1988, saat pertama kali saya benar-benar bersentuhan dengan PMII. Di sanalah, tanpa banyak seremoni, ia mulai “menangkap” saya—lalu tak pernah benar-benar melepaskan.
Ia bukan tipe pemimpin yang berjarak. Ia justru “menenteng”—dalam arti yang paling harfiah dan paling hangat. Saya diajak, dikenalkan, diseret masuk ke lingkaran para senior: Fajrun Najah Ahmad, almarhum Teddy Djunaidi, almarhum Musadiq Subing, almarhum Rustam Efendi Damara, dan banyak nama lain yang kini menjadi bagian dari sejarah pergerakan di Lampung.
Dari tangan Kiai Munzir, saya belajar bahwa kaderisasi bukan sekadar proses formal, melainkan relasi yang hidup—yang dirawat dengan kedekatan, kepercayaan, dan keteladanan.
Ia bahkan tak segan menitipkan saya kepada senior lain. Kepada Kolonel Purnawirawan TNI AL Thamrin Ferly, ia berpesan agar saya selalu diajak dalam setiap kegiatan kepemudaan. Kepada almarhum Lazuardi Alwi, penerusnya sebagai Ketua PMII, ia menitipkan saya untuk terus ditempa. Seolah ia sedang menenun satu benang panjang, memastikan kader-kadernya tidak tercerabut dari proses.
Dan saya adalah salah satu benang itu. Waktu berjalan. Jalan hidup membawa saya ke berbagai organisasi—PMII, IKA PMII, PWI, Pemuda Pancasila, hingga partai politik. Namun di setiap langkah, ada satu kebiasaan yang tak pernah hilang: berkonsultasi dengan Kiai Munzir. Ia bukan hanya tempat bertanya, tetapi juga tempat menimbang—antara idealisme dan realitas.
Salah satu nasihatnya masih terpatri kuat hingga hari ini. Ketika saya diminta menjadi Ketua PW IKA PMII Lampung pada 2002, menggantikan almarhum Tan Gatot Mahawisnu, ia memanggil saya dengan gaya khasnya—lugas, tanpa basa-basi:
“Peng… elu pegang Ketua IKA Lampung. Ini bukan jabatan untuk cari duit. Ini tempat distribusi kader. Dan elu harus siap jadi ‘tong sampah’. Yang jelek-jelek, yang ruwet-ruwet, biasanya larinya ke Ketua. Yang enak-enak, jarang. Tapi gua yakin elu bisa.”
Kalimat itu sederhana, bahkan terdengar kasar. Tapi di situlah letak kejujurannya. Ia tidak sedang memberi motivasi kosong. Ia sedang menyiapkan mental.
Bahwa memimpin bukan soal kenyamanan, tapi kesiapan menanggung beban.
Bahwa menjadi kader bukan soal panggung, tapi soal ketahanan.
Kini, orang yang pernah “menenteng” saya itu telah pergi. Tentu, kenangan tentangnya tak akan cukup dituliskan dalam satu catatan. Ia terlalu luas untuk diringkas, terlalu dalam untuk sekadar dikenang sepintas. Tapi satu hal yang pasti—ia telah menanam sesuatu yang tak akan ikut dikuburkan: nilai, cara pandang, dan semangat kaderisasi yang terus hidup dalam diri murid-muridnya.
Pagi itu, subuh terasa lebih sunyi. Bukan karena dunia berhenti, tapi karena satu suara penuntun telah hilang. Namun seperti yang sering ia ajarkan, kehilangan bukan alasan untuk berhenti berjalan.
Selamat jalan, Yay.
Saya bersaksi, engkau orang baik.
Dan saya percaya, surga telah menantimu di sana.
Alfatihah












