iklan
Relationship

Istri Rusli Bintang, Cari Keadilan Lewat Selembar Surat

×

Istri Rusli Bintang, Cari Keadilan Lewat Selembar Surat

Share this article

MALAM itu, Sabtu (08/02/2025) Bandarlampung tetap gelap. Namun, ada kegelapan yang lebih pekat dalam hati seorang perempuan bernama Rosnati Syech.

Dengan tangan gemetar, ia merangkai kata demi kata dalam sebuah surat yang ditujukan kepada seseorang yang pernah ia percayai sepenuh hati—suaminya, Rusli Bintang –ayah dari legislator asal Lampung Muhammad Kadafi–.

“Saya merasa hak-hak saya sebagai istri dan ibu telah dirampas.”

Kalimat itu bukan sekadar ungkapan kekecewaan, melainkan suara dari seorang perempuan yang menginginkan keadilan tanpa harus menumbuhkan kebencian.

Surat itu bukan untuk melawan, bukan untuk membalas dendam, tetapi untuk mempertanyakan: di mana letak kesalahannya?

Dulu, Rosnati percaya pada janji-janji suaminya. Janji untuk selalu bekerja keras demi keluarga, untuk setia, dan untuk selalu menjadi ayah yang hadir bagi ke enam anak mereka.

Namun, seiring berjalannya waktu, janji-janji itu memudar, tergantikan oleh kenyataan yang menyakitkan.
Ketika kabar pernikahan kedua suaminya sampai ke telinganya, Rosnati memilih diam.

Ia ingin percaya bahwa semua itu hanyalah kesalahpahaman. Namun, kepercayaannya runtuh ketika ia menemukan sebuah paspor—dokumen yang mencatat nama seorang anak yang bukan darah dagingnya.

“Saya dapati adanya dokumen paspor anak Pak Rusli yang bukan darah daging saya,” ungkapnya.

Saat itulah, ia sadar bahwa yang selama ini ia genggam bukanlah janji, melainkan kebohongan.

Mencari Keadilan, Bukan Permusuhan

Rosnati berusaha bertahan demi ke enam anaknya. Namun, cobaan terus datang. Yayasan ALTEK, yang dahulu ia bangun bersama suaminya—sebuah yayasan yang membawahi Universitas Malahayati—berubah kepemilikan.

Namanya dan ke enam anaknya dihapus dari struktur pembina tanpa sepengetahuannya. Entah siapa yanng menggantikan posisi itu kini.

Namun, Rosnati tidak ingin larut dalam kemarahan. Ia ingin mencari keadilan dengan cara yang damai. Ia berharap ada titik terang, di mana hak-haknya sebagai istri dan ibu dapat diakui kembali, tanpa harus menyakiti siapa pun.

Harapan untuk Masa Depan

Di tengah rasa kecewa, Rosnati tetap ingin berdamai—bukan hanya dengan situasi, tetapi juga dengan dirinya sendiri.

Ia ingin menyuarakan apa yang ia alami bukan untuk menebar kebencian, melainkan untuk mengingatkan bahwa keadilan harus diperjuangkan dengan cara yang baik.

Surat itu akhirnya terkirim. Bukan untuk meratapi nasib, melainkan sebagai simbol bahwa ia masih memiliki harapan. Harapan agar perempuan lain tidak mengalami hal yang sama. Harapan agar hak seorang istri dan ibu tidak lagi diabaikan. Dan yang terpenting, harapan agar semua ini bisa berakhir dengan kedamaian.

Rosnati tetap menggenggam harapan. Ia mungkin telah kehilangan banyak hal—kepercayaan, hak, dan kebersamaan yang dulu ia bangun dengan cinta—tetapi ia tidak ingin kehilangan ketegaran dan kedamaian dalam hatinya.

Surat yang ia tulis bukanlah bentuk perlawanan, melainkan suara kejujuran dari seorang perempuan yang hanya ingin dihargai sebagai istri dan ibu.

Dalam luka yang mendalam, ia memilih untuk tidak membalas dengan kebencian, melainkan dengan doa dan harapan.

Karena bagi Rosnati, keadilan bukan soal menang atau kalah, tetapi tentang menemukan kembali hak dan martabat yang seharusnya tak pernah diambil. Dan di antara reruntuhan impian, ia tetap percaya bahwa kedamaian akan selalu menjadi jalan terbaik untuk menyembuhkan luka. (***/red)


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *