DI tengah gegap gempita Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Powarnas) 2024 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ada satu kisah yang mengingatkan kita bahwa perjuangan hak tidak mengenal kompromi.
Di balik selebrasi kemenangan dan sorak sorai penonton, tersimpan cerita tentang seorang Ketua Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Lampung, Muslim Pranata, yang tak kenal lelah memperjuangkan hak atletnya.
Sebuah insiden yang nyaris luput dari perhatian, seorang atlet e-sport yang ditempatkan di bangku cadangan tidak diberikan haknya untuk menerima medali.
Di sinilah, di tengah hiruk-pikuk dan kealfaan panitia, Muslim Pranata dengan tegas maju ke depan. Dia tidak hanya berbicara tentang medali sebagai sekadar benda fisik, tapi tentang prinsip keadilan.
“Ini bukan sekadar soal penghargaan, tapi soal pengakuan terhadap usaha dan kerja keras, tanpa membedakan apakah atlet tersebut berada di tim inti atau cadangan,” tegasnya.
Muslim mengingatkan kita bahwa setiap atlet, setiap individu yang berpartisipasi, memiliki hak yang sama. Hak untuk dihargai atas usaha mereka, tanpa pandang bulu. Di sini, medali bukan sekadar simbol kemenangan, tapi representasi dari keadilan yang harus diperjuangkan.
Di tengah gemuruh euforia dan kemenangan, perjuangan Muslim menjadi refleksi bahwa di balik setiap perhelatan besar, ada nilai-nilai kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan.
Panitia, yang semula mungkin abai atau tidak menyadari kesalahan ini, akhirnya merespons. Mereka memberikan medali yang seharusnya kepada atlet tersebut. Namun, insiden ini menyisakan pertanyaan mendalam: Mengapa harus ada perbedaan perlakuan antara atlet inti dan cadangan?
Bukankah mereka semua berjuang dengan semangat yang sama? Dalam suasana olahraga yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas dan kesetaraan, insiden ini menjadi tamparan keras bagi kita semua.
Powarnas 2024 seharusnya menjadi momen refleksi, bukan hanya tentang bagaimana kita merayakan kemenangan, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan setiap individu yang berkontribusi.
Keadilan bukanlah sesuatu yang bisa dinegosiasikan. Tidak ada perbedaan antara mereka yang bermain di lapangan dan mereka yang duduk di bangku cadangan. Semua memiliki hak yang sama, dan hak itu harus dijaga dengan segenap hati.
Cerita Muslim Pranata ini bukan sekadar tentang satu medali yang hampir hilang, tetapi tentang perjuangan untuk mempertahankan prinsip keadilan dan kesetaraan dalam olahraga.
Ini adalah pengingat bahwa di tengah gemuruh kemenangan, kita tidak boleh melupakan nilai-nilai fundamental yang membuat olahraga begitu berarti: keadilan, kesetaraan, dan penghargaan atas usaha setiap individu.
Di sinilah letak kekuatan sebenarnya dari olahraga, bukan hanya pada pencapaian, tetapi pada bagaimana kita memperlakukan satu sama lain di sepanjang perjalanan.
Di ahir perjuangan, 125 kontingen PWI Lampung kembali dengan kepala tegak, setelah mengantongi total 24 medali, jumlah yang tidak sedikit, tepat di urutan ke-3 setelah jumlah perolehan medali tuan rumah dan kontingen Jawa Barat.
Trimakasih














