iklan
SUDUT PANDANG

Mengapa Rakyat Aceh Begitu Kuat

×

Mengapa Rakyat Aceh Begitu Kuat

Share this article

Oleh: Dr. H. Wahyu Iryana
Penulis Buku Sejarah Pergerakan Nasional

MENGAPA rakyat Aceh begitu kuat? Pertanyaan ini sering terdengar seperti kalimat pembuka pidato seremonial, diucapkan dengan nada kagum, lalu ditutup dengan tepuk tangan yang cepat basi. Padahal, jika ditarik lebih dalam, pertanyaan ini justru menyimpan kegelisahan: mengapa Aceh tidak pernah benar-benar jinak? Mengapa sejak abad ke-19 hingga hari ini, Aceh selalu tampak “keras kepala” terhadap kekuasaan yang menindas, entah itu kolonial, negara modern, atau elite yang gemar memakai jas rapi sambil merusak hutan?

Jawabannya tidak sesederhana keberanian fisik atau fanatisme agama. Kekuatan Aceh lahir dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi penguasa mana pun: ingatan kolektif yang terorganisasi, diwariskan, dan disucikan. Aceh kuat karena ia memiliki teks, iman, dan etika moral yang menyatu dan ketiganya menjadikan penderitaan bukan sekadar nasib, melainkan bagian dari pengabdian.

Ketika Belanda memulai agresi militernya ke Aceh pada 1873, mereka datang dengan keyakinan khas imperium: meriam lebih fasih daripada doa, dan senjata modern pasti lebih meyakinkan daripada kitab. Tetapi arsip kolonial justru menunjukkan sebaliknya. Dalam Politiek Verslag van Atjeh tahun 1880, Residen Aceh dengan nada hampir putus asa melaporkan bahwa di hampir setiap mukim, rakyat berkumpul membaca hikayat jihad di meunasah dan rumah-rumah. Laporan ini bukan sekadar catatan administratif; ia adalah pengakuan kegagalan awal kolonialisme: bahwa Aceh telah siap secara ideologis sebelum peluru pertama ditembakkan.

Teks yang membuat Belanda gelisah itu adalah Hikayat Perang Sabil. Dalam karya monumentalnya De Atjehers (1893–1894), Snouck Hurgronje orientalis cerdas yang menyamar menjadi Muslim dan hidup di tengah orang Aceh—mengakui tanpa tedeng aling-aling bahwa tidak ada bacaan yang daya rusaknya bagi kolonialisme melebihi hikayat ini. Snouck mencatat bahwa hikayat tersebut menanamkan keyakinan sederhana namun mematikan: mati melawan penjajah adalah mati syahid, dan mati syahid adalah kemenangan, bukan kekalahan.

Di sinilah logika kolonial mulai gagap. Bagaimana menaklukkan masyarakat yang tidak takut mati, bahkan memandang kematian sebagai pintu kehormatan? Salah satu bait hikayat yang paling sering dikutip, nyangka syuruga dalam tangan rakan, pintu surga berada di tanganmu, bukanlah sekadar metafora puitik. Ia adalah doktrin teologis yang membatalkan seluruh perhitungan untung-rugi ala kolonial. Jika mati adalah menang, maka senjata api kehilangan makna simboliknya.

Efeknya terasa hingga ke barak-barak KNIL. Dalam catatan harian kopral F. van der Linde tahun 1902, tersimpan pengakuan yang jujur sekaligus ironis: sebelum serangan mendadak pasukan Aceh, para serdadu Belanda kerap mendengar lantunan syair dari balik hutan dan perbukitan. Bukan jeritan, bukan ratapan, melainkan nyanyian. Van der Linde menulis bahwa suara itu membuat pasukan Aceh maju tanpa ragu, seolah mereka tidak sedang menuju kematian, tetapi pulang ke rumah. Catatan ini menunjukkan bahwa Belanda tidak sedang melawan pasukan kecil bersenjata rencong, melainkan manusia yang telah berdamai dengan akhir hidupnya.
Namun akan keliru jika Hikayat Perang Sabil dibaca hanya sebagai manual perang.

Manuskrip-manuskrip hikayat yang tersimpan di KITLV Leiden dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia terutama varian dari Pidie, Aceh Besar, dan Aceh Barat menunjukkan bahwa jihad selalu diletakkan dalam kerangka etika yang lebih luas. Penjajahan digambarkan bukan hanya sebagai perampasan kekuasaan politik, tetapi juga sebagai perusakan tanah, hutan, dan sumber kehidupan. Dalam hikayat, kezaliman penguasa selalu berjalan seiring dengan rusaknya tatanan alam.

Pandangan ini bukan sekadar tafsir sastra. Dalam laporan Gouvernement van Atjeh tahun 1885, pemerintah kolonial mencatat penolakan keras ulama Aceh terhadap kebijakan pembukaan hutan untuk kepentingan militer dan ekonomi. Ulama Aceh, menurut laporan itu, memandang perusakan alam sebagai bentuk kezaliman yang mengundang murka Tuhan. Sikap ini sejalan dengan tafsir-tafsir lokal Aceh abad ke-19 atas ayat fasād fī al-arḍ (kerusakan di bumi), yang manuskripnya kini tersimpan di Leiden dan Banda Aceh. Dalam tafsir-tafsir tersebut ditegaskan bahwa bencana bukan datang tiba-tiba, melainkan akibat langsung dari keserakahan manusia dan elite penguasa.

Di sinilah kita menemukan sesuatu yang jarang dibicarakan: akar eko-teologi Aceh. Alam dipahami sebagai amanah, bukan komoditas. Penjajahan kolonial dipandang sebagai kejahatan ganda: menindas manusia sekaligus merusak bumi. Karena itu, Perang Sabil bukan sekadar perang senjata, melainkan perang moral melawan ketidakadilan struktural dan kerakusan kekuasaan. Dalam bahasa hari ini, Aceh sudah lama membaca relasi antara krisis ekologis dan krisis etika, jauh sebelum istilah “lingkungan hidup” menjadi jargon seminar.

Peran ulama dalam Perang Aceh memperkuat semua ini. Ulama tidak duduk nyaman di mimbar sambil menyerahkan urusan darah kepada orang lain. Mereka berada di garis depan. Teungku Chik di Tiro, Teungku Kuta Karang, dan Teungku Lam Nga bukan hanya pemimpin spiritual, tetapi juga pemimpin politik dan militer. Dalam surat-surat jihad Teungku Chik di Tiro yang tersimpan dalam Collectie Snouck Hurgronje, ditegaskan bahwa mempertahankan Aceh berarti menjaga amanah Tuhan atas manusia dan alam. Menyerah kepada penjajah, tulisnya, sama artinya dengan mengkhianati iman.

Kesadaran inilah yang membuat Belanda akhirnya mengubah strategi. Dalam Politiek Verslag tahun 1901, pemerintah kolonial secara terang-terangan mengakui bahwa selama Hikayat Perang Sabil dan otoritas ulama masih hidup, tidak ada operasi militer yang benar-benar efektif. Maka lahirlah kebijakan klasik kolonialisme: pelarangan pembacaan hikayat, penangkapan ulama, perampasan manuskrip, dan penghancuran meunasah. Sayangnya bagi Belanda, ingatan tidak bisa ditembak. Hikayat tidak mati; ia justru bergerak secara lisan dari ibu ke anak, dari guru ke murid, dari pejuang ke keluarganya. Ia hidup sebagai memori yang tidak membutuhkan percetakan.

Inilah sebabnya Aceh tidak pernah benar-benar tunduk. Bahkan setelah perang Aceh secara militer dinyatakan selesai pada awal abad ke-20, etos Perang Sabil tetap hidup sebagai kesadaran moral. Di banyak keluarga Aceh, hikayat disimpan seperti pusaka bukan untuk mengobarkan perang setiap hari, tetapi untuk menjaga martabat. Ia menjadi pengingat bahwa hidup tanpa kehormatan lebih menakutkan daripada mati.

Watak ini pula yang membantu menjelaskan ketangguhan Aceh menghadapi bencana alam di era modern. Ketika tsunami 2004 meluluhlantakkan Aceh, banyak ulama dan tokoh masyarakat mengaitkannya dengan ingatan panjang tentang ujian dan peringatan moral. Dalam khotbah-khotbah pascatsunami yang terekam dalam tradisi lisan dan tulisan lokal bencana dipahami bukan semata-mata gejala alam, tetapi juga alarm etika: bahwa manusia tidak boleh serakah, apalagi atas nama pembangunan.

Banjir bandang dan krisis ekologis yang berulang di Aceh hari ini juga mengikuti pola lama itu. Eksploitasi alam, kebijakan elite, dan ketimpangan struktural kembali menjadi penyebab utama penderitaan rakyat. Bedanya, dulu pelakunya kolonial berseragam, kini sering kali anak negeri sendiri dengan bahasa pembangunan yang licin.

Sejarah Aceh menunjukkan bahwa keserakahan elite siapa pun pelakunya selalu berujung pada bencana sosial dan ekologis. Pola ini sudah dibaca ulama Aceh sejak abad ke-19 dan ditulis dengan jujur dalam hikayat dan tafsir mereka.

Karena itu, kekuatan Aceh bukanlah mitos heroik. Ia adalah hasil latihan sejarah yang panjang: melawan penjajahan, menafsirkan iman secara etis, dan menjaga relasi dengan alam. Hikayat Perang Sabil membuktikan bahwa kata-kata bisa menjadi senjata, doa, dan kompas moral sekaligus. Selama ingatan itu hidup, Aceh akan selalu punya daya untuk bangkit. Ia boleh kalah secara administratif, boleh disakiti oleh bencana, tetapi ia tidak pernah benar-benar kehilangan arah.

Dan barangkali di situlah letak kegelisahan banyak penguasa terhadap Aceh: Aceh terlalu ingat, dan ingatan adalah musuh paling keras kepala bagi kekuasaan yang rakus.

Tabik


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *