iklan
SUDUT PANDANG

Ekonomi Umat Berjejaring: Ruh Bergerak, Manfaat Mengalir

×

Ekonomi Umat Berjejaring: Ruh Bergerak, Manfaat Mengalir

Share this article

Oleh: ARISTAMA
Ketua Umum ARMADA – Aliansi Rakyat Mahasiswa Anak Daerah

ADA satu rahasia lama yang selalu berbisik di lorong-lorong kehidupan umat: kita ini kaya, tapi sering lupa cara mengumpulkan kekayaan itu dalam wadah yang tepat. Saking banyaknya jamaah, masjid, majelis, dan pengajian, kita ibarat semut berbaris tanpa komando yang jelas. Masing-masing sibuk membawa remah sendiri-sendiri, padahal kalau dipikir-pikir, kita bisa mengangkat satu ketela raksasa bersama-sama.

Dari keresahan seperti itulah lahir satu gagasan yang namanya panjang, tapi niatnya pendek dan tegas: Spirit – Sociopreneur Networking. Jangan buru-buru kening mengerut. Ini bukan MLM berwajah religius atau seminar motivasi yang berujung daftar paket. Ini cara baru memadukan ruh, nilai sosial, dan kerja sama nyata yang tak membohongi realitas.

Ketika Spirit Menjadi Arah

Dalam kerangka ini, spirit bukan diteriakkan dengan pengeras suara, melainkan dipinjam dari rumah besar umat: NU, Muhammadiyah, dan saudara-saudara seperjuangannya. Di sinilah nilai keadilan, amanah, dan keberpihakan pada kelompok lemah dijadikan fondasi. Spirit menjaga agar langkah ekonomi tidak berubah menjadi lomba lari individual yang hanya menyisakan debu bagi yang berada di belakang.

Sociopreneur adalah makhluk yang agak langka: ia berbisnis sembari menjaga nurani. Ia mencari untung, tapi tak lupa menyalakan lampu di rumah sebelah. Dalam sistem ini, sociopreneur bukan orang yang menjanjikan “sukses dalam tiga bulan”, tapi orang yang mencari solusi bagi kebutuhan riil: pangan jamaah, pendidikan, kesehatan, dan seterusnya.

Laba bukan singgasana, melainkan bahan bakar untuk perjalanan yang lebih panjang.

Networking di sini bukan kumpulan grup WhatsApp yang sepi setelah dua minggu. Ia adalah ekosistem hidup berbasis saling percaya. Tiap orang ibarat simpul sadar, membawa nilai, cerita, dan sebentuk tanggung jawab moral.

Di dunia ini, yang diduplikasi bukan hanya sistem dan katalog produk, tetapi—kata orang tua kita—ruh perjuangan.

Nilai dulu, volume belakangan. Dampak dulu, skala menyusul. Dan kalau ada yang bertanya apa mata uang utamanya, jawabannya tegas: kepercayaan.

Arsitektur yang Bertingkat

Sistem ini dibangun dari lapisan yang jelas:
Mulai dari individu yang sadar tujuan, tumbuh menjadi komunitas nilai, lalu membentuk jejaring dampak, hingga akhirnya menjelma ekosistem yang tahan lama—bukan hitungan musim panen, tapi hitungan generasi.

Alurnya sederhana: bangunkan niat → selaraskan visi → jalankan usaha → perbesar dampak → jaga keberlanjutan.
Sama seperti orang menanam mangga: rawat akarnya, buahnya akan datang sendiri.

Di sinilah Sigma Mandala masuk. Jika Spirit – Sociopreneur Networking adalah ruhnya, Sigma Mandala adalah kerangkanya. Yang satu memberikan arah nilai, yang lain menyediakan jalur distribusi dan pola kerja.

Bersama-sama mereka menciptakan sistem yang jelas: ada legitimasi spiritual, ada mekanisme pemasaran sosial, ada duplikasi sehat, ada distribusi manfaat yang adil.

Yang membedakan dari skema piramida:
Tidak ada rekrutmen membabi buta.
Tidak ada mimpi penghasilan fantastis.
Tidak ada pemusatan kekayaan di puncak.

Yang ada adalah kecukupan kolektif, bukan kemewahan individual.

Di Lapangan, Ia Menjelma Menjadi Banyak Hal Ruh dan sistem ini bisa muncul dalam:

  • jaringan pangan jamaah,
  • koperasi dan BMT yang lebih hidup dari sekadar papan nama,
  • ekonomi pesantren yang berjejaring,
  • distribusi produk amal usaha ormas

Hingga UMKM jamaah yang dibesarkan dengan tangan-tangan komunitas.

Semua bekerja bukan demi segelintir orang, tetapi demi maslahat yang mengalir ke banyak arah.

Pada akhirnya, konsep ini ingin menegaskan satu hal: umat ini terlalu besar untuk jalan sendiri, tapi terlalu berharga untuk dibiarkan tanpa sistem.

Maka, bergabunglah dalam jejaring yang tak hanya menghitung rupiah, tetapi juga mengalirkan manfaat. Biarkan ruh bergerak, biarkan ekonomi bertumbuh, dan biarkan kemaslahatan menjalar ke mana-mana.

Karena ketika nilai dan jejaring berjalan beriringan, ekonomi umat bukan hanya hidup—ia menjadi peradaban kecil yang berkilau.

Tabik


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *