(Kisah Perubahan Hidup Petani Ulubelu di Tengah Revolusi Energi Hijau)
Oleh: Ahmad Riyadi
Jurnalis Pembaruan.ID
UDARA pagi di lereng Gunung Tanggamus selalu membawa aroma khas: campuran embun, tanah basah, dan biji kopi yang baru disangrai. Asap tipis mengepul dari tungku dapur rumah-rumah kayu, menari di antara pepohonan yang berbaris di lereng curam.
Di sinilah Fikri, seorang petani kopi dari Desa Muara Dua, memulai harinya. Tangan kasarnya terbiasa memegang cangkul dan karung goni, sementara matanya tajam mengamati setiap pucuk daun kopi yang mulai berbuah.
“Sejak kecil hidup saya nggak jauh dari kopi. Dari situ saya belajar bertahan,” ujarnya, sambil memutar sendok di gelas kopi hitam yang baru saja diseduh.
Namun, di balik kesederhanaannya, Fikri tahu betul satu hal: menjadi petani kopi di pelosok Ulubelu tak selalu tentang harum kopi, tapi juga tentang jalan-jalan rusak yang menghubungkan desa dengan pasar.
Jalan setapak berlumpur yang memisahkan hasil panen dari pembeli. “Dulu, kalau musim hujan, kami harus pikul karung kopi. Truk nggak bisa masuk. Kadang biji kopi terendam air hujan di jalan, rusak, nggak laku,” kenangnya.
Bertahun-tahun, hidup Fikri seperti berhenti di situ. Di ladang yang sama, jalan yang sama, dan nasib yang juga sama. Hingga satu hari, di tengah kabar yang terdengar asing, datang rombongan orang berseragam dengan alat ukur di tangan. Mereka berbicara tentang panas bumi, pipa uap, dan pembangkit listrik.
“Itu dulu kami pikir mau bikin pabrik besar yang bakal merusak gunung,” kata Fikri sambil tertawa kecil. “Ternyata justru sebaliknya.”
Cahaya dari Perut Bumi
Beberapa tahun kemudian, hamparan hijau di lereng itu berubah. Jalan-jalan yang dulu becek kini telah diaspal. Truk-truk pengangkut material melintas membawa pipa baja raksasa. Proyek besar itu dikenal sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulubelu, yang dioperasikan oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE).
Di bawah tanah Ulubelu, tersimpan energi yang selama ini tidur: cadangan panas bumi yang kini menjadi jantung energi baru Lampung. Melalui teknologi pengeboran dalam, panas itu diubah menjadi tenaga listrik—energi yang bersih, terbarukan, dan berkelanjutan.
“Sekarang mobil bisa langsung masuk ke kebun. Ongkos angkut kopi jadi setengahnya,” ujar Fikri, kali ini dengan senyum yang lebih lapang. “Kalau dulu, dua kali panen bisa habis buat ongkos. Sekarang, uangnya bisa disimpan buat anak sekolah.”
Perubahan yang dirasakan Fikri adalah wajah nyata dari transformasi besar di Ulubelu. Sejak PLTP beroperasi pada 2011, kehidupan masyarakat setempat pelan-pelan berubah. Jalan raya dibuka, lapangan kerja muncul, dan ekonomi desa berputar lebih cepat.
Menurut Ahmad Yani, Direktur Operasional PGE, proyek Gunung Tiga—bagian dari PLTP Ulubelu—akan menambah kapasitas listrik sebesar 55 megawatt (MW). Angka itu cukup untuk menerangi 450.000 rumah tangga dan menekan emisi karbon hingga 460.000 ton CO₂ per tahun.
“Lampung masih bergantung pada sistem interkoneksi Sumatera bagian selatan,” ujarnya. “Proyek ini akan memperkuat kemandirian energi daerah dan memastikan pasokan listrik yang stabil untuk masyarakat.”
Nilai investasi tahap awal proyek ini mencapai USD 36,6 juta, mencakup pembangunan jalan baru sepanjang tujuh kilometer, fasilitas pekerja, dan program pemberdayaan masyarakat sekitar. Sejak saat itu, sekitar 244.000 rumah tangga di Lampung kini mendapatkan listrik dari perut bumi Ulubelu.
Sapto Trianggo Nurseto, Project Manager Eksplorasi Gunung Tiga, menegaskan, “Potensi panas bumi di Ulubelu bukan hanya energi, tapi masa depan. Kami ingin membuktikan bahwa energi hijau bisa tumbuh dari tanah yang dulu dianggap terpencil.”
PLTP Ulubelu kini memiliki kapasitas terpasang 4×55 MW, menyumbang sekitar 25 persen kebutuhan listrik Provinsi Lampung. Tak hanya soal daya listrik, proyek ini juga menekan laju emisi hingga 1,1 juta ton CO₂ per tahun—kontribusi besar terhadap upaya Indonesia mencapai target Net Zero Emission 2060.
Ulubelu, Desa yang Menyala
Bagi masyarakat, PLTP bukan sekadar proyek besar. Ia adalah pengingat bahwa perubahan bisa lahir dari desa yang dulu sunyi. “Ulubelu adalah simbol bahwa energi bersih lahir dari tanah kita sendiri untuk generasi masa depan,” kata Mochamad Iriawan, Komisaris Utama Pertamina.
Kini, di antara pipa-pipa geothermal yang melintang di pinggir jalan, kehidupan tumbuh lebih dinamis. Warung kopi berdiri di depan rumah warga, bengkel sepeda motor ramai, dan toko bahan bangunan bermunculan.
Bagi Fikri, ini bukan sekadar modernisasi. Ia menyebutnya “keadilan energi.” Sebab, untuk pertama kalinya, petani di desa kecilnya bisa menikmati hasil dari kekayaan bumi yang mereka pijak sendiri.
“Saya nggak tahu apa itu karbon atau megawatt,” ujarnya sambil tersenyum. “Yang saya tahu, jalan bagus, listrik nyala, dan kopi kami bisa sampai ke pasar lebih cepat. Itu sudah cukup.”
Energi dari Langit dan Air
Tapi cerita Ulubelu tidak berhenti di panas bumi. Energi hijau juga datang dari arah lain — dari langit dan dari sungai.
Di sebuah greenhouse sederhana tak jauh dari rumah Fikri, sekelompok pemuda tani tengah sibuk memeriksa pipa-pipa air dan sistem pengairan. Di antara mereka, Edi (26) berdiri dengan mata berbinar. Di lahan seluas beberapa ratus meter persegi itu, tanaman melon tumbuh rapi dengan metode hidroponik.
Namun, yang membuat kebun itu istimewa bukan hanya buahnya, melainkan sumber energinya. Greenhouse Edi menjadi yang pertama di Ulubelu yang menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hasil dukungan Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE).
“Sejak ada PLTS, kalau hari panas saya malah senang,” katanya. “Berarti pompa air jalan lancar, nutrisi bisa mengalir ke tanaman, dan biaya listrik lebih hemat.”
Setiap bulan, kelompok tani yang dipimpin Edi menghemat sekitar Rp200 ribu dari biaya listrik. “Kelihatannya kecil,” ujarnya, “tapi bagi kami, itu cukup buat beli bibit baru.”
Energi surya ini menjadi simbol transisi energi yang benar-benar dirasakan masyarakat. Bagi Edi, PLTS bukan sekadar alat, melainkan peluang. “Dulu kami takut kalau listrik padam, tanaman bisa mati. Sekarang, sinar matahari yang dulu bikin panas malah jadi sumber kehidupan.”
Cahaya yang Mengalir dari Sungai
Inovasi energi hijau di Ulubelu juga mengalir dari sungai di Desa Air Abang. Di sana, Pertamina NRE membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang memanfaatkan derasnya arus air pegunungan.
Kini, 60 rumah, sekolah, musala, dan masjid di desa itu menikmati terang setiap malam. Suara turbin kecil bergemuruh lembut di balik pepohonan, menjadi penanda perubahan yang senyap tapi pasti.
“Dulu desa ini gelap gulita setelah magrib,” kenang warga setempat. “Sekarang anak-anak bisa belajar malam hari, dan masjid tak lagi sepi karena lampunya nyala.”
Bagi Dicky Septriadi, Corporate Secretary Pertamina NRE, ini bukan sekadar proyek sosial. “Transisi energi harus dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya. “Kami ingin setiap inovasi berdampak nyata bagi kehidupan warga, bukan hanya di atas kertas laporan.”
“Menjadi perusahaan yang memiliki dampak positif bagi lingkungan sekitar,” lanjutnya, “adalah fundamental dari semangat keberlanjutan yang kami bangun.”
Energi yang Mengubah Cara Pandang
Ulubelu kini menjadi cermin kecil tentang bagaimana transisi energi bisa dimulai dari desa. Dari panas bumi, sinar matahari, hingga aliran sungai, semuanya berpadu menjadi ekosistem energi bersih yang hidup berdampingan dengan alam.
Bagi Edi, energi hijau bukan lagi istilah teknis, melainkan filosofi hidup. “Kami jadi belajar bahwa alam bisa jadi sahabat kalau kita pandai memanfaatkannya dengan bijak,” katanya.
Sementara bagi Fikri, setiap karung kopi yang kini ia jual ke pasar bukan hanya hasil kerja kerasnya, tapi juga bukti bahwa energi bersih membawa harapan baru. “Kalau dulu kami cuma mikir panen dan bertahan hidup,” ujarnya, “sekarang kami mulai mikir masa depan.”
Di kaki Gunung Tanggamus, dua generasi hidup berdampingan: generasi Fikri yang tumbuh dari tanah, dan generasi Edi yang belajar dari teknologi. Keduanya dipertemukan oleh satu hal yang sama — energi.
Lampung Menyala, Indonesia Melangkah
Saat senja turun di Ulubelu, uap panas bumi menari pelan di udara dingin, sementara cahaya lampu rumah-rumah desa mulai menyala satu per satu.
Dari kebun kopi Fikri hingga greenhouse melon milik Edi, cahaya itu kini jadi simbol tentang perubahan — tentang desa yang tak lagi gelap, tentang pemuda yang tak lagi takut bermimpi.
“Dulu kami pikir energi itu cuma milik kota,” kata Edi pelan. “Sekarang kami tahu, masa depan Indonesia bisa lahir dari desa sekecil Ulubelu.”
Dan di bawah cahaya yang perlahan menyelimuti lereng gunung, suara Fikri terdengar samar, namun penuh keyakinan:
“Dari tanah yang kami pijak, ternyata kita bisa menyalakan Indonesia.”
Lampung menyala. Indonesia melangkah.
Tabik Pun.












