PEMBARUAN.ID — Malam turun pelan, seperti menahan napas. Di tepi aliran sungai Sumur Putri, cahaya seadanya berkedip-kedip. Di sana, ratusan orang berkumpul—bukan untuk merayakan apa pun, melainkan merawat harap yang nyaris patah.
Nama itu terus disebut: Bunga. Fatma.
Duka menyelimuti keluarga besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lampung. Dua kader PMII Komisariat Universitas Lampung itu belum juga ditemukan setelah terseret banjir bandang di kawasan Taman Wisata Alam Wira Garden, Rabu (01/04/2026) siang.
Tak ada yang benar-benar siap dengan kabar seperti ini. Pagi yang biasa, perjalanan yang sederhana, berubah menjadi cerita yang tak diinginkan siapa pun.
Malam ini, doa menjadi satu-satunya yang bisa dipastikan.
“Ya, kami malam ini gelar doa bersama di posko yang kami dirikan di daerah aliran sungai wilayah Sumur Putri, Telukbetung Selatan,” kata Kadis Pangan Pemkot Bandarlampung, Eks Camat Telukbetung Selatan yang juga alumni PMII, H. Ikhwan Adji Wibowo. Suaranya pelan, seperti menyesuaikan dengan suasana yang tak lagi riuh.
Di sekelilingnya, kader, senior, dan alumni larut dalam doa. Tidak ada yang saling mendahului. Semua sama—menunduk, berharap, menunggu.
Ketua Komisariat PMII Unila, M. Divka Alfanni, duduk di antara mereka. Ia tidak banyak bicara, tapi langkahnya jelas.
“Kami membentuk tim dan bergabung dengan Tim SAR. Kami akan mengupayakan yang terbaik,” ujarnya.
Kalimat itu sederhana. Tapi di dalamnya, ada tekad yang tak sederhana.
Peristiwa itu sendiri datang tanpa aba-aba. Bunga (asal Metro) dan Fatma (asal Tubaba) datang bersama dua rekannya, Rika Yolanda dan Damayanti. Mereka berangkat dengan dua sepeda motor. Seperti banyak anak muda lainnya, mereka hanya ingin menikmati waktu—sebentar saja, tanpa rencana panjang.
Hujan turun. Lalu reda.
Sekitar pukul 12.30 WIB, mereka berdiri di bebatuan di tepi sungai. Kamera diangkat. Senyum mungkin sempat terbingkai.
Lalu air datang.
Cepat. Tiba-tiba. Tanpa kompromi.
Bunga dan Fatma yang berada di atas batu tak sempat melompat. Sementara Rika Yolanda dan Damayanti, yang berada di sisi pinggir, masih punya waktu—sedetik, dua detik—cukup untuk menyelamatkan diri.
Selebihnya, air mengambil alih cerita.
Kini, yang tersisa adalah jejak, doa, dan pencarian yang belum selesai. Malam semakin larut. Namun tak satu pun benar-benar ingin pulang.
Karena di antara gelap, selalu ada keyakinan yang dijaga diam-diam:
bahwa Bunga dan Fatma masih bisa ditemukan.
Dan harapan, seperti doa malam ini, belum ingin berhenti. (***/red)














