PEMBARUAN.ID – Senja Ramadan di Bandarlampung turun perlahan. Langit memerah, angin membawa aroma takjil yang tersaji di meja-meja sederhana. Orang-orang datang dengan langkah santai, sebagian bersalaman, sebagian lagi berbincang ringan. Kamis (12/03/2026) halaman kantor (PWI) Lampung dipenuhi suasana hangat buka puasa bersama.
Namun petang itu bukan sekadar tentang menunggu azan magrib. Di antara obrolan yang mengalir dan gelas air yang belum tersentuh, ada satu momen yang membuat acara terasa berbeda. Sebuah dokumen penting—yang lama dinantikan—akhirnya diserahkan.Sertifikat tanah kantor PWI Lampung.
Acara buka puasa bersama tersebut dihadiri berbagai unsur pemerintah dan mitra pers. Gubernur Lampung berhalangan hadir dan diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesra, Firsada. Hadir pula Kepala Dinas Kominfo Provinsi Lampung Ganjar Jationo, perwakilan Wali Kota Bandarlampung melalui Asisten Wilson, para rektor perguruan tinggi se-Lampung, serta mitra pers seperti PHE OSES dan BRI.
Di tengah para tamu itu, perhatian tertuju pada perwakilan BPN. Ya, Kepala BPN Provinsi Lampung Hasan Basri Natamenggala tidak dapat hadir dan diwakili Fungsional Madya, Albert Muntari yang menyerahkan dokumen penting, sertifikat.
Pria yang sebelumnya pernah menjabat Kepala BPN Kota Bandarlampung itu berdiri di depan para undangan dengan aura yang tenang, seolah sedang mengingat kembali perjalanan panjang di balik selembar sertifikat itu.
“Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas diterbitkannya sertifikat kantor PWI oleh BPN,” kata Ketua PWI Lampung, Wirahadikusumah dalam samhutannya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi proses di baliknya tidak sesingkat yang dibayangkan. Sertifikat tersebut lahir dari rangkaian administrasi yang panjang, dimulai dari proses di BPN Kota Bandarlampung.
Berkas-berkas diperiksa, dilengkapi, dan diverifikasi hingga akhirnya mencapai tahap penerbitan.
“Prosesnya memang panjang. Awalnya diproses di BPN Kota Bandarlampung, dan saat itu yang menandatangani adalah pak Albert,” tuturnya.
Kalimat tersebut seperti membawa ingatan pada perjalanan panjang yang telah dilalui para pengurus dan insan pers Lampung. Gedung yang berdiri itu bukan sekadar bangunan, tetapi tempat lahirnya diskusi, perdebatan, dan kerja jurnalistik yang tak pernah berhenti.
Wira kemudian menutup sambutannya dengan sebuah harapan gedung kantor PWI Lampung dapat terus memberi manfaat bagi para insan pers dan menjadi tempat yang melahirkan karya-karya jurnalistik yang bermakna bagi masyarakat.
Lebih dari itu, ia mengajak semua yang hadir untuk mendoakan para tokoh yang telah lebih dulu berjuang membangun organisasi tersebut.
“Semoga keberadaan gedung ini menjadi catatan pahala bagi para senior terdahulu, khususnya Almarhum H. Solfian Akhmad,” ujarnya.
Rangkaian buka puasa dilanjutkan dengan tausiyah dan tak lama kemudian azan magrib berkumandang. Suara itu seolah menutup satu bab cerita yang panjang.
Para tamu mulai berbuka puasa, kurma berpindah dari piring ke tangan, dan gelas air putih akhirnya terangkat.
Di senja Ramadan itu, sebuah penantian panjang berakhir dengan sederhana—melalui selembar sertifikat yang kini resmi menjadi milik rumah para wartawan Lampung. (***/red)














