iklan
PERISTIWA

Di Hari Fitri, Dua Tokoh Lampung Berpulang

×

Di Hari Fitri, Dua Tokoh Lampung Berpulang

Share this article

HARI Raya seharusnya menjadi ruang pulang yang utuh—di mana pelukan saling menghapus salah, dan tawa menutup segala yang retak. Tapi hidup, sekali lagi, memilih caranya sendiri untuk bercerita.

Di Hari Fitri itu, Lampung tidak hanya kehilangan dua orang tua dalam lingkup keluarga. Ia kehilangan dua jejak sejarah.

Senin pagi, 23 Maret 2026, pukul 07.30 WIB, di sebuah rumah sakit di Jakarta, Tamanhuri bin Hakim Raja Hukum berpulang. Ia bukan sekadar ayah, kakek, atau buyut bagi keluarganya.

“Jenazah akan di semayamkan di rumah duka jln sultan Agung No F6 Way Halim Bandarlampung,” kata seorang politisi senior, Noverisman Subing, Senin (23/03/2026).

“Mohon dimaafkan segala kesalahan dan khilaf almarhum semasa hidup serta mohon doa dari bapak/ibu sekalian,” lanjut dia.

Almarhum Tananhuri adalah mantan Bupati Way Kanan dua periode (2000–2010)—seorang yang pernah memegang arah, mengambil keputusan, dan berdiri di tengah banyak harapan.

Jenazahnya disemayamkan di rumah duka di Jalan Sultan Agung, Way Halim, Bandar Lampung. Rumah itu kini tidak hanya menampung kesedihan keluarga, tapi juga kenangan tentang seorang pemimpin yang pernah berjalan bersama rakyatnya.

Namun duka itu ternyata sudah lebih dulu datang.

Sehari sebelumnya, Minggu, 22 Maret 2026, pukul 17.08 WIB, di RSUD Abdul Moeloek, Bandar Lampung, Drs. Mozes Herman bin Muchtar Abisiri lebih dulu berpulang. Ia adalah Wali Kota Metro pertama (2000–2005)—sebuah posisi yang tidak hanya administratif, tetapi juga simbol awal, fondasi, dan keberanian membangun dari nol.

Rumah duka di Jalan Sumpah Pemuda, Way Halim, menjadi tempat berkumpulnya kehilangan. Di sana, kisah tentang seorang perintis kembali diingat, pelan-pelan, di antara doa-doa yang tak pernah benar-benar selesai.

Dua nama. Dua waktu. Dua pemimpin.

Datang silih berganti dalam rentang yang begitu dekat, seakan ingin mengatakan bahwa sejarah pun bisa berduka bersamaan.

Hari yang mestinya penuh kemenangan, justru diisi dengan keheningan yang lebih panjang. Takbir tetap berkumandang, tapi di sela-selanya ada isak yang ditahan. Ada kenangan yang tiba-tiba muncul tanpa diminta.

Keluarga besar keduanya, dengan segala kerendahan hati, memohon maaf atas segala khilaf yang mungkin pernah terucap dan terjadi semasa hidup almarhum. Sebab pada akhirnya, yang tersisa dari manusia bukan hanya jabatan, tetapi juga jejak—baik yang terasa, maupun yang tak sempat diucapkan.

Dan kita yang mendengar kabar ini, tahu satu hal sederhana:
bahwa kehilangan tidak pernah melihat jabatan, waktu, atau suasana.

Ia datang, dan kita hanya bisa menerima.

Di Hari Fitri itu, Lampung belajar lagi satu hal—bahwa bahkan di hari kemenangan, hidup tetap menyimpan perpisahan.

Semoga almarhum Tamanhuri dan almarhum Mozes Herman mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. (***)


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *