iklan
SUKA NOVER

HPN, Panggung Kata dan Janji

×

HPN, Panggung Kata dan Janji

Share this article

HARI Pers Nasional selalu datang seperti cermin. Ia tidak pernah benar-benar memantulkan wajah yang sama. Setiap tahun, bayangannya berubah, tergantung siapa yang berdiri di depannya dan kata apa yang paling keras diucapkan.

Di Banten, cermin itu sempat bergetar ketika Presiden batal hadir dan Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar berbicara. Ia tidak berteriak. Ia tidak mengancam. Ia hanya mengingatkan—dan justru di situlah letak kegelisahannya. Tentang integritas yang kerap dipuji tapi jarang diuji.

Tentang keadilan ekonomi yang sering dielu-elukan, namun terasa jauh dari halaman rumah sendiri. Tentang demokrasi yang kelihatannya kokoh, padahal sering berdiri di atas lantai rapuh bernama kepentingan.

Pers, dalam sambutan itu, bukan malaikat. Ia juga bukan penjahat. Ia manusia: bisa lelah, bisa tergoda, bisa lupa. Tapi justru karena itu pers diminta hadir—bukan sekadar melaporkan, melainkan mengganggu. Mengganggu kenyamanan. Mengusik kebiasaan. Menanyakan hal-hal yang ingin dilupakan.

HPN lalu bergerak. Seperti obor estafet yang tidak boleh padam, ia berpindah tangan. Dari Banten, ia melirik ke seberang—ke sebuah provinsi yang sering disebut pintu, tapi jarang ditanya: mau ke mana pintu itu dibuka?

Lampung menyambutnya dengan senyum kesiapan. Kata “siap” diucapkan berkali-kali, seolah ingin diyakinkan pada dirinya sendiri. Siap menjadi tuan rumah. Siap menjadi ruang. Siap menata panggung tempat pers tidak hanya tampil, tapi juga diuji.

Gubernurnya bicara tentang semangat, tentang kebudayaan, tentang pengakuan. Tarian ditampilkan. Penghargaan diberikan. Tradisi diperlihatkan seperti album keluarga yang dibuka dengan bangga. Ada keyakinan bahwa pers dan budaya bisa duduk semeja—saling menatap tanpa curiga.

Namun HPN bukan sekadar seremoni. Ia adalah janji yang mudah diucapkan dan sulit ditepati. Di sanalah Lampung diuji kelak: apakah ia hanya akan menjadi latar foto, atau benar-benar ruang dialog? Apakah pers akan dibiarkan bertanya tanpa dibisiki? Apakah kritik akan dipeluk, bukan disingkirkan?

HPN 2027 masih dua tahun lagi. Waktu yang cukup panjang untuk bersiap, tapi juga cukup lama untuk lupa. Dan barangkali, di situlah tugas pers sesungguhnya—mengingatkan. Terus-menerus. Dengan kata-kata yang kadang terasa aneh, kadang tidak nyaman, tapi perlu.

Karena tanpa kegelisahan, HPN hanya pesta. Dan pers, hanya tamu yang pulang membawa goodie bag.

Semoga


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *