PEMBARUAN.ID – PT Energi Agro Nusantara (Enero), anak usaha PTPN I, mencatatkan kinerja gemilang sepanjang 2025 dengan memproduksi 32 juta liter bioetanol, melampaui kapasitas terpasang pabrik yang hanya 30 juta liter.
Capaian ini menegaskan kesiapan PTPN I dalam mendukung transisi energi dari fosil menuju energi hijau, sejalan dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto terkait kedaulatan energi nasional.
Dalam laporan tahunannya, PT Enero menutup 2025 dengan optimisme tinggi. Selain melampaui target produksi, perusahaan juga berhasil meningkatkan kadar kemurnian etanol hingga 99,9 persen, jauh di atas ambang batas standar bahan bakar (fuel grade).
Kualitas ini memperkuat kepercayaan para pemangku kepentingan, termasuk produsen otomotif, terhadap pemanfaatan bioetanol sebagai campuran BBM nasional.
Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, memberikan apresiasi kepada manajemen PT Enero atas capaian tersebut. Menurutnya, Enero menjadi duta strategis PTPN I dalam mendorong kemandirian energi nasional berbasis bahan bakar nabati (BBN).
“Di tengah urgensi global menekan emisi karbon dan mempercepat transisi energi berkelanjutan, PTPN I berkomitmen menjadi pionir penyedia energi hijau. Enero membuktikan komitmen itu melalui produksi bioetanol berkualitas tinggi,” ujar Teddy di Jakarta, Minggu (25/01/2026).
Teddy menegaskan, keberhasilan ini menjadi sinyal kuat kesiapan PTPN I menghadapi implementasi program mandatori bioetanol pemerintah.
Dengan kualitas produk melampaui standar toleransi 99,2 persen dan produksi yang melebihi kapasitas terpasang, PTPN I optimistis dapat meningkatkan skala produksi untuk memenuhi kebutuhan nasional.
“Jika mandatori diterapkan penuh, kami siap melakukan ekspansi. Dari sisi infrastruktur, teknis, dan operasional, PTPN I berada pada level kesiapan tertinggi untuk menjawab tantangan kemandirian energi masa depan,” tegasnya.
Memasuki 2026, PTPN I menargetkan produksi minimal 30 juta liter, dengan kontrak berjalan (on hand) yang telah mencapai 13,5 juta liter atau sekitar 50 persen dari target tahunan.
Meski demikian, Teddy menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan antar pemangku kepentingan, terutama terkait regulasi dan insentif cukai agar bioetanol domestik mampu bersaing dengan produk impor.
Sementara itu, Komisaris Utama PT Enero, Tuhu Bangun, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan buah dari visi awal pendirian perusahaan pada 2013, hasil kerja sama Kementerian Perindustrian dan NEDO Jepang.
Menurutnya, bioetanol bukan sekadar bisnis, melainkan bagian dari masa depan bangsa menuju kemandirian energi dan target nol emisi.
“Ini adalah titik strategis bagi Enero menjemput masa depan terbaik—bagi bangsa, lingkungan, dan kesejahteraan karyawan,” ujarnya.
Direktur PT Enero, Puji Setiyawan, menambahkan bahwa keunggulan utama perusahaan terletak pada desain pabrik yang sejak awal diperuntukkan bagi fuel grade ethanol, sehingga dapat langsung menyuplai kebutuhan campuran BBM nasional tanpa modifikasi fasilitas.
Untuk menjaga stabilitas produksi, PT Enero memperkuat mitigasi pada lima pilar utama, mulai dari kepastian serapan pasar, ketersediaan bahan baku molases, hingga stabilitas pasokan energi dari PLN dan PGN.
Keberhasilan ini diharapkan menjadi motor penggerak transisi energi nasional sekaligus mendukung roadmap pembangunan pabrik bioetanol baru di sejumlah wilayah strategis, termasuk Glenmore, Banyuwangi, demi mewujudkan Indonesia yang lebih hijau dan mandiri secara energi. (***/red)














