PEMBARUAN.ID (Bisnis) – Udara sejuk Ciwidey pagi itu menyambut langkah rombongan Dewan Komisaris PTPN III Holding yang menyusuri hamparan hijau Kebun Teh Rancabali.
Dari kejauhan, suara mesin kecil berpadu dengan desir angin pegunungan—bukan lagi irama tradisional para pemetik yang mengandalkan tangan, tetapi bunyi lembut mesin pemetik teh tunggal, single harvester, yang kini menjadi sahabat baru para pekerja kebun.
“Dulu saya cuma dapat 30 sampai 40 kilo sehari, sekarang bisa 150 sampai 170 kilo,” ujar Nenah, seorang pemetik teh yang sudah dua tahun menggunakan alat ini.
Di wajahnya tergambar semangat baru—bukan hanya karena hasil panennya meningkat, tetapi karena pekerjaan yang dulu terasa berat kini menjadi lebih ringan dan efisien.
“Nggak pakai bensin lagi, Pak. Cukup baterai. Lebih cepat, lebih gampang,” tambahnya.
Mendengar itu, Sjukrianto Yulia, Komisaris Independen PTPN III Holding, tersenyum puas. Kunjungan lapangan itu bukan sekadar seremonial, tapi upaya untuk melihat langsung bagaimana inovasi sederhana bisa membawa perubahan nyata. Bersama dua komisaris lainnya, Kasan dan Riyatno, ia meninjau penerapan teknologi di salah satu aset milik PTPN I Regional 2 tersebut.
“Bayangkan, dari 30 kilo menjadi 170 kilo per hari—itu luar biasa,” ujar Sjukrianto. “Kita mungkin tidak sedang bicara tentang teknologi spektakuler, tapi tentang cara berpikir baru. Tentang keberanian meninggalkan kebiasaan lama demi hasil yang lebih efisien dan aman.”
Bagi Sjukrianto, transformasi bukan hanya tentang mesin, tetapi tentang mentalitas. “Kami mendorong seluruh lini untuk tidak terlalu konservatif. Cari cara baru, manfaatkan teknologi, bahkan yang paling sederhana sekalipun, jika itu terbukti efektif,” katanya di sela kunjungan.
PTPN I Regional 2 sendiri memang tengah berupaya mengubah cara kerja lapangan menjadi lebih modern. Dengan single harvester bertenaga baterai, mereka tak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga memangkas biaya bahan bakar dan waktu kerja.
“Langkah ini kecil, tapi dampaknya besar,” tutur Regional Head PTPN I Regional 2, Desmanto.
Ia menegaskan, inovasi ini bukan hanya soal angka produksi yang meningkat empat kali lipat, melainkan tentang peningkatan kesejahteraan pekerja.
“Mesin ini membantu mereka bekerja lebih cepat tanpa kehilangan kenyamanan. Kami ingin teknologi hadir bukan untuk menggantikan manusia, tapi untuk meringankan dan memuliakan kerja manusia,” ujarnya.
Bagi PTPN, Kebun Rancabali kini bukan sekadar lahan produksi, melainkan laboratorium hidup—tempat di mana tradisi bertemu inovasi. Di antara daun teh yang menari diterpa angin, tumbuh pula semangat baru: semangat menuju perkebunan cerdas, efisien, dan berkelanjutan.
Karena di balik secangkir teh yang hangat, ada cerita panjang tentang manusia, teknologi, dan transformasi yang tak henti diseduh oleh waktu. (***/red)














