PEMBARUAN.ID – Hari itu, 23 Januari 2025, Aula Global Nusantara di Pekon Gisting Permai, Tanggamus, terasa hangat. Bukan hanya oleh udara yang menembus celah-celah jendela, tetapi oleh semangat yang menyatu dalam lantunan sholawat dan doa. Semua yang hadir tahu, hari itu adalah hari yang penting. Konferensi Cabang (Konfercab) PCNU Tanggamus tak hanya sekadar agenda rutin—ia adalah momen menentukan arah langkah lima tahun ke depan.
KH. Samsul Hadi, seorang sosok yang namanya tak asing di telinga masyarakat Tanggamus, berdiri di hadapan mereka. Dengan tenang, ia membacakan laporan pertanggungjawaban sebagai Ketua PCNU Tanggamus masa khidmat 2020–2025. Setiap kalimat yang keluar dari bibirnya, seolah menggambarkan perjalanan penuh dedikasi, diwarnai lika-liku yang mungkin hanya ia dan Tuhan yang tahu.
Lalu tibalah sidang pleno keempat. Dipimpin oleh KH. Marzuki Amin, Ketua Syuriah PCNU Tanggamus, sidang itu menjadi saksi musyawarah mufakat yang menggema di ruangan. Dua puluh Majelis Wakil Cabang (MWCNU) serempak sepakat. Bukan melalui suara yang bersaing, melainkan dengan hati yang sepemikiran: KH. Samsul Hadi kembali diamanahi untuk memimpin PCNU Tanggamus hingga 2030.
Ketika nama itu diumumkan, suasana aula mendadak syahdu. Lantunan sholawat mengalun, memenuhi ruang dengan keharuan. Di tengah momen itu, Samsul Hadi hanya menunduk. Ada syukur yang membuncah, namun ada juga kesadaran besar akan beratnya amanah yang kembali ia panggul.
“Alhamdulillah,” katanya pelan, namun penuh makna. “Segala dinamika sebelumnya adalah hal yang lumrah. Jika ada yang kurang berkenan, saya mohon maaf. Yang jelas, ini bukan hanya tentang saya, ini tentang kita semua.”
Tak ada selebrasi besar. Yang ada adalah rencana, terucap dengan ketenangan khas seorang pemimpin yang tahu ke mana harus melangkah. Ia berbicara tentang pentingnya menyusun struktur kepengurusan baru, tentang investasi pada sumber daya manusia dari tingkat ranting hingga cabang, tentang pemberdayaan sumber daya alam yang melimpah di Tanggamus.
“Ini bukan sekadar organisasi,” ucapnya. “Ini adalah keluarga besar yang harus tumbuh bersama. Kita tidak hanya mendukung program pemerintah, tapi kita juga memastikan kebermanfaatan itu terasa oleh masyarakat.”
KH. Samsul Hadi mungkin bukan sosok yang akan dengan mudah menunjukkan rasa lelahnya. Tapi setiap kata yang ia sampaikan di hari itu, seolah berpesan: amanah adalah perjalanan, bukan tujuan. Dan perjalanan itu baru saja dimulai lagi. (***/red)














