iklan
KOMUNITASPERISTIWA

Kelas Mondok Klasika: Merenungi Negativitas Manusia dalam 40 Hari

×

Kelas Mondok Klasika: Merenungi Negativitas Manusia dalam 40 Hari

Share this article

PEMBARUAN.ID – Ada suasana yang berbeda di Rumah Ideologi Klasika malam itu. Cahaya temaram memantul di wajah sembilan mahasiswa yang akan memulai perjalanan mereka dalam Kelas Mondok Angkatan XIV. Tema yang diangkat kali ini adalah “Negativitas Manusia,” sebuah topik yang mengundang renungan mendalam tentang sisi gelap manusia yang kerap diabaikan.

Ahmad Mufid, Direktur Klasika, membuka kelas dengan penuh keyakinan. Ia menyebut bahwa 40 hari pembelajaran bukanlah perjalanan yang mudah. Namun, bagi Klasika, tantangan itu bukan hal baru. Sudah 13 angkatan sebelumnya berhasil mereka lalui, membawa beragam peserta, termasuk perempuan, untuk mendalami tiga aspek penting dalam diri manusia: kognitif, psikomotorik, dan afektif.

“Kita ingin peserta memahami bahwa dalam diri mereka ada tiga aspek utama yang perlu dioptimalkan. Saat berdiskusi, kedepankan akal. Saat berolahraga, fokuslah pada gerak tubuh. Dan dalam kehidupan emosional, belajarlah memaksimalkan afektif,” ujar Mufid dengan suara tenang namun penuh makna, Minggu (29/12/2024).

Pemikiran yang Membedakan Manusia

Chepry Chairuman Hutabarat, pendiri Klasika, mengambil alih panggung dengan sebuah pemikiran yang menggetarkan. Ia memulai sambutannya dengan pertanyaan sederhana namun dalam: apa yang membedakan manusia dari hewan?

“Jawabannya adalah kemampuan berpikir,” katanya. “Namun, yang lebih menarik adalah perbedaan antar manusia itu sendiri. Itu bisa dilihat dari jenis pertanyaan yang mereka ajukan—apakah hanya soal diri sendiri, atau sudah menyentuh hal yang lebih besar, seperti lingkungan, masyarakat, hingga kemanusiaan.”

Bagi Chepry, pertanyaan adalah pintu menuju pencerahan. Ia menyebut bahwa dari pertanyaan-pertanyaan besar inilah nabi dan filsuf menemukan ilmu pengetahuan atau bahkan wahyu. Sebuah perjalanan intelektual yang tak pernah lepas dari refleksi mendalam.

Pesan dari Gus Dur

Namun, yang paling menyentuh adalah kisah Chepry tentang inspirasi di balik durasi kelas mondok yang berlangsung selama 40 hari. Ia mengisahkan pengalamannya pada tahun 2010, setahun setelah wafatnya Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

“Saya bermimpi tiga malam berturut-turut bertemu dengan Gus Dur. Di malam ketiga, beliau menepuk pundak saya dan berkata, ‘Bacalah Al-Fatihah 100 kali dan adakan majelis ilmu selama 40 hari,’” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Sejak itu, angka 40 menjadi simbol perjalanan batin sekaligus intelektual bagi Klasika. Sebuah waktu yang dianggap cukup untuk menyelami diri, melampaui sekadar teori, dan menemukan makna yang lebih besar.

Sebuah Perjalanan Menuju Pemahaman

Kelas Mondok bukan sekadar ruang belajar. Ia adalah perjalanan. Para peserta diajak bukan hanya untuk memahami tema besar seperti negativitas manusia, tetapi juga untuk menatap diri sendiri dalam cermin, menggali potensi yang mungkin selama ini terpendam.

Di tengah malam yang hening, sambutan itu ditutup dengan sebuah harapan: bahwa setiap peserta Kelas Mondok akan pulang dengan pemahaman yang lebih dalam tentang dirinya, sesama, dan dunia di sekitarnya. “Karena sejatinya,” ujar Chepry dengan lembut, “kehidupan ini adalah tentang bagaimana kita terus bertanya dan mencari jawaban.” (sandika/red)


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *