iklan
KOMUNITASPERISTIWA

Bentuk BUMC, PMII Balam Buka Stand Kaos di Arena Kongres

×

Bentuk BUMC, PMII Balam Buka Stand Kaos di Arena Kongres

Share this article

PEMBARUAN.ID – Di tengah riuh rendah Kongres PMII di Palembang, ada secercah semangat yang menyala dari sudut pandang yang tak biasa. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Bandarlampung menghadirkan sebuah usaha yang menjadi simbol kemandirian dan kreativitas: Badan Usaha Milik Cabang (BUMC). Di bawah tenda biru, mereka menjual ratusan baju, bukan sekadar kain, tetapi semangat dan harapan.

Riki Testa Andaya, Direktur BUMC PMII Bandarlampung, dengan mata yang berbinar, berbicara tentang perjuangan dan strategi mereka. “Ini bagian dari cara kita mandiri saat perhelatan kongres,” ujarnya, Sabtu (10/08/2024), seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah bukti nyata bahwa mimpi mereka lebih dari sekadar omong kosong.

BUMC PMII Bandarlampung memang baru seumur jagung, tapi semangat mereka sudah sebesar pohon beringin. Untuk kali ini, mereka hanya menjajakan baju di kongres, berbeda dengan di Bandarlampung di mana mereka juga memproduksi roti bakar.

“Yang jelas, fokus kami pada kualitas di tiap produk BUMC,” jelas Riki, seolah kualitas adalah harga mati yang tak bisa ditawar.

Dapid Novian Mastur, Ketua PC PMII Bandarlampung, menambahkan dengan penuh keyakinan bahwa penjualan baju ini adalah strategi memperkenalkan BUMC Bandarlampung ke kancah nasional.

“Ini salah satu cara kita untuk memperkenalkan BUMC dan melatih kemandirian kader,” ujarnya dengan nada yang penuh semangat, seolah setiap helaian baju yang terjual adalah langkah kecil menuju impian besar mereka.

Pembentukan BUMC PMII Bandarlampung bukanlah tanpa tujuan. Ini adalah langkah strategis menuju kemandirian kader, agar tak selalu bergantung pada senior.

“Kedepan PMII Bandarlampung harus mandiri, tidak bergantung pada senior,” tegas Dapid, dengan tatapan mata yang penuh keyakinan akan masa depan yang lebih cerah.

Meskipun BUMC masih dalam tahap awal, optimisme membumbung tinggi di kalangan mereka. Dapid menutup percakapan dengan penuh harapan, “Ke depan, kami akan mengkurasi semua usaha milik kader yang tentunya akan kami dampingi untuk menjaga kualitasnya sehingga dapat dijajakan di BUMC Bandarlampung,” ujarnya, seolah janji itu adalah batu bata pertama dari bangunan besar yang sedang mereka rintis.

Di balik tenda biru itu, bukan hanya baju yang dijual, tetapi juga mimpi, semangat, dan harapan yang membara. PMII Bandarlampung sedang menulis kisah baru tentang kemandirian, dan setiap langkah mereka adalah bukti bahwa masa depan yang lebih cerah sedang menanti di ujung jalan. (agis/red)


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *