list

Pernikahan Dini ; Mana Mungkin Anak Mengurus Anak!

Facebook
Twitter
WhatsApp

Dari Diskusi Tentang Anak yang Digelar Permampu

MENIKAH adalah salah satu hal tersakral dalam hidup manusia. Meski menikah adalah dambaan setiap insan, tapi persatuan ikatan tersebut bukanlah perkara yang bisa dilakukan tanpa persiapan yang matang.

Lazimnya, kesiapan tersebut menyangkut kedewasaan mental, matangnya emosional,
daya berpikir yang mumpuni, hingga keadaan ekonomi yang stabil.

Senada dengan hal itu, dalam momentum Peringatan Hari Anak, Suara Remaja Perempuan dan Laki-laki dampingan Konsurium Perempuan Sumatera Mampu (Permampu) menghelat diskusi bertema “Ngobrol Kritis Anak Muda Sumatera; Perkawinan di bawah 19 Tahun dari Sudut Pandang Anak Muda”.

Dalam kesempatan yang diikuti oleh perwakilan 8 provinsi di Sumatera tersebut, masing-masing pembicara berpendapat soal bahaya yang mengintai pernikahan dini hingga idealnya usia menikah, berdasarkan temuan mereka dilingkungan sekitarnya hingga dari teman sepergaualan.

Wilda (19 tahun) misalnya, Perwakilan Forum Perempuan Muda (FPM), dampingan LP2M Sumbar, salah satu lembaga Anggota Konsorsium Permampu. Ia menyampaikan kasus yang menimpa temannya, yang belum genap berusia 19 tahun namun mengalami kehamilan lalu menikah.


Akibatnya, temannya tersebut mengalami KDRT. Menurutnya usia 19 tahun, baik laki-laki dan perempuan belumlah ideal untuk menikah lantaran belum memiliki emosi yang matang.

Selanjutnya, Sasta Maria Lumbantobing (17th) yang merupakan pembicara perwakilan FPM dampingan PESADA. Ia berpendapat, mana mungkin anak mengurus anak.

Menurutnya, perkawinan anak akan berdampak pada masa depannya, yaitu bahaya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan perceraian.

Ia menyebutkan, umur 18 bahkan 19 tahun belum cukup dewasa untuk memperoleh pekerjaan, atau pendapatan. Sementara Umur 25 tahun adalah usia yang matang untuk rahim perempuan dibuahi

Serupa dengan hal itu, Cici Piola (18 tahun) yang berasal dari
FPM Riau berpendapat bahwa usia matang untuk menikah adalah usia 20 sampai
25 tahun.

Pendapat-pendapat sebagaimana diatas menjadi pandangan umum dari para peserta perayaan. Menurut mereka, perkawinan di bawah 19 tahun dapat memberi dampak yang bahkan bisa menyebabkan kematian di usia muda.


Suara perempuan muda dan para laki-laki muda tersebut semakin menguatkan Konsorsium PERMAMPU yang memiliki program INKLUSI untuk fokus memperkuat Program Pencegahan dan Penanganan Perempuan Korban Perkawinan Usia di bawah 19 tahun.

Program diatas melalui Revitalisasi One Stop Service and Learning
(OSS&L) di Puskesmas, menggiatkan Gerakan Pembaharu Keluarga (GAHARU dan melanjutkan perjuangan Forum Perempuan Akar Rumput dalam gerakan perempuan yang Intergenerasional dan Inklusif.

Program PERMAMPU ini juga didasari data KPPPA, dimana angka perkawinan anak di Indonesia mencapai 11,21 persen di tahun 2017 dan meski pernah turun ke angka 10,82 persen tahun 2019; tetapi di masa Covid-19 angka perkawinan anak justru meningkat tajam.

Hal ini ditemukan oleh Komnas Perempuan di tahun 2019, dimana terdapat 23.126 kasus pernikahan anak, dan di tahun 2020 jumlahnya naik tajam menjadi 64.211. Sementara target RPJM Indonesia tahun 2020-2024, seharusnya angka perkawinan anak harus turun menjadi 8,74 persen.

UU 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas UU 1 Tahun 1974 yang menyatakan usia 19 tahun sebagai usia perkawinan minimum, harus terus disosialisasikan dan diinternalisasikan di seluruh institusi, khususnya keluarga dan lembaga agama.


Permampu menghimbau agar menghindari segala bentuk dispensasi perkawinan d bawah usia 19 tahun dengan terus mengadakan pendidikan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) di semua institusi khususnys di keluarga, lembaga pendidikan, dan lembaga kesehatan.

Untuk diketahui, perayaan ini dilaksanakan secara hybrid dan berpusat di Medan, dengan melibatkan anggota Konsorsium yang tersebar di 8 provinsi, dari Aceh hingga Lampung.

Kegiatan ini, diikuti 129 peserta yang 90an di antaranya adalah perempuan muda berusia antara 15 s/d 25 tahun.

Selebihnya adalah 2 laki-laki muda pendukung FPM, serta perwakilan Forum Komunitas Perempuan Akar Rumput (FKPAR) Sumatera dan personil 8 lembaga anggota PERMAMPU.

Perayaan ini mendengarkan pandangan 8 pembicara yang terdiri dari 7 perempuan dan 1 laki-laki dari perwakilan FPM dampingan Flower Aceh-Aceh, Pesada Sumatera Utara, LP2M-Sumatera Barat, APM Jambi-Jambi, PPSW Riau-Pekanbaru, CP WCC Bengkulu-Bengkulu, WCC Palembang-Palembang dan DAMAR-Lampung. (***)

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terkait

Copyright © pembaruan.id
All right reserved