Oleh: Noverisman Subing
Buku ini, Bersiap ke Polandia, sejatinya adalah sebuah tiket musiman. Bukan, bukan tiket kereta, melainkan tiket pulang-pergi ke masa lalu, masa kini, dan masa depan Gerakan Pramuka (atau kepanduan, kalau mau sok Inggris) yang dibungkus rapi dalam 50-an halaman yang renyah.
Penulisnya, Berthold DH Sinaulan, atau akrab disapa Kak Be, ini tampaknya sedang dilanda euphoria Jambore Kepanduan Sedunia (WSJ) di Polandia tahun 2027.
Saking semangatnya, ia tak tanggung-tanggung, tak hanya merancang pernak-pernik, tapi juga menuliskannya menjadi buku.
Sebuah upaya yang pantas diacungi jempol—atau minimal dua jari (seperti salam Pramuka)—karena, cui, siapa lagi yang bakal menulis buku sedetail ini demi menyongsong sebuah perkemahan? Kecuali, tentu saja, seorang jurnalis veteran berjiwa Pramuka yang hobi mengoleksi kenangan dan woggle (pengait setangan leher).
Dari Korea ke Polandia: Estafet Bendera, Estafet Cerita
KAK BE memulai kisahnya persis setelah ia pulang dari WSJ ke-25 di Korea Selatan, yang katanya diselamatkan oleh Topan Khanun—sebuah judul buku yang sendiri sudah cukup jenaka. Dari Korea, ia membawa oleh-oleh berupa tekad, dan tak lupa, sebuah woggle istimewa dari Kontingen Polandia.
Cerita mengalir, berputar-putar manja di antara api unggun sejarah kepanduan. Kita diajak bernostalgia ke Pulau Brownsea tahun 1907, tempat Baden-Powell memulai segalanya.
Bayangkan: 20 anak laki-laki diajak berkemah, belajar mandiri, dan memasak sendiri. Kalau zaman sekarang, mungkin anak-anak itu lebih memilih staycation sambil main Mobile Legends, tapi begitulah, sejarah memang tak bisa ditawar.
Kemudian, datanglah bagian paling Mahbub Djunaidi-esque: asal-usul kata “Jambore”. Konon katanya, Baden-Powell ditanya kenapa namanya itu, ia jawab pendek, “What else would you call it?” (Apa lagi sebutan yang dapat diberikan?).
Nah, ini dia gaya humor yang ngambang tapi menusuk: sebuah keramaian besar, riuh rendah, yang hanya bisa dinamakan Jamboree—sebuah gabungan kata jabber (obrolan cepat tak jelas) dan shivaree (perayaan riuh), plus sisipan huruf m dari kata jam (kerumunan). Benar-benar deskripsi yang pas untuk sebuah perkemahan akbar yang penuh teriakan dan tukar-menukar badge!
Jambore? Ya, apa lagi namanya? Sebuah kerumunan di mana kau bisa mendengar 176 logat bicara berbeda sambil berebut pin edisi terbatas—itulah jambore.
Menyongsong 70 Tahun Dua Bendera Terbalik
Di tengah riuhnya kisah kepanduan dunia, Kak Be menyelipkan sepotong sejarah manis: tahun 2025 ini, genap 70 tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Polandia (1955-2025). Sebuah side dish yang tak terduga namun renyah.
Ia bahkan menyambungkan dua negara Merah-Putih ini dengan kisah-kisah di luar diplomasi resmi. Mulai dari Bandara Polonia di Medan (yang namanya diambil dari Baron Polandia pemilik tanah tembakau) hingga kisah-kisah atlet kita yang “tertukar” bendera.
Ingatkah pada Lalu Mohammad Zohri yang tak kebagian Merah Putih, lantas meminjam bendera Polandia dan membaliknya? Atau sebaliknya, lifter Polandia Oliwia Drazga yang meminjam Merah Putih kita?
Ini menunjukkan satu hal: persahabatan sejati tak butuh bendera yang posisinya persis sama. Cukup warnanya saja yang serasi. Toh, di mata seorang Pandu, semua adalah saudara—hanya saja, yang satu Merah-Putih, yang satu lagi Putih-Merah.
Catatan Akhir: Sebuah Buku Persiapan yang Bravely
Buku ini tak hanya berisi trivia kepanduan (mulai dari WSJ pertama di Olympia, London, hingga perdebatan jumlah peserta di tahun 1929), tetapi juga detail persiapan untuk WSJ ke-26 di Gdańsk.
Kak Be, dengan background-nya sebagai delegasi WSC ke-42, menjelaskan tema Jambore: “Bravely” (Dengan Berani). Sebuah tema yang pas untuk mengajak kaum muda keluar dari zona nyaman smartphone dan berani mengambil inisiatif untuk planet ini.
Bersiap ke Polandia adalah lebih dari sekadar buku panduan; ia adalah memoar singkat tentang kecintaan penulis pada dunia kepanduan, sejarah diplomatik yang unik, dan harapan akan masa depan.
Ia menuliskannya dengan gaya yang jujur, sedikit usil, dan tentu saja, mengalir.
Bagi Anda yang ingin bernostalgia tentang betapa asyiknya menukar badge, atau sekadar mencari alasan untuk menabung agar bisa ke Gdańsk tahun 2027—atau bahkan mencalonkan Indonesia sebagai tuan rumah WSJ 2035—buku tipis ini adalah bacaan wajib.
Intinya: Buku ini seperti tenda kemah: sederhana dari luar, tapi menyimpan banyak cerita seru di dalamnya. Bacalah, dan siapkan ransel Anda.
Terimakasih














