logo pembaruan
list

‘Open BO’ di Unila **

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh:
Dr. Maruly H. Utama *

ADA yang menarik dari setiap momentum tahun baru. Natal dan tahun baru selalu diiringi dengan liburan dan kembang api. Tahun baru teman-teman Tionghoa yang popular disebut Imlek identik dengan kue tutun.

Tahun baru Islam diperingati dengan berbagai perlombaan baca Quran dan lomba adzan. Sementara tahun ajaran baru ketika semua orang tua disibukan dengan perlengkapan studi anak, justeru dijadikan momentum Open BO bagi Karomani (Aom) Rektor Unila yang ditangkap KPK.

Open BO dimulai saat pendaftaran mahasiswa baru jalur mandiri. Modusnya mirip dengan Open BO pada aplikasi michat. Jika nominal setoran sudah disepakati jumlahnya maka orang tua mahasiswa cukup menyerahkan nomor peserta ujian, dijamin lulus.

Tidak ada beda dengan Open BO aplikasi michat. Jika pelanggan sudah sepakat dengan nominal pembayaran maka akan diberikan nomor kamar hotel. Orang tua mahasiswa pasti komit untuk memberikan setoran karena dengan sendirinya muncul kekhawatiran soal kelanjutan studi selama di Unila.

Aom bukan pemain lama Open BO. Puluhan tahun di FKIP Unila tidak pernah dipercaya menduduki jabatan di Fakultas. Sementara pemain Open BO adalah orang-orang yang memiliki jabatan dan memiliki akses pada posisi puncak Universitas. Selama di FKIP jabatan Aom paling top menjadi panitia yang mengurus sertifikasi guru. Artinya Aom mengerti Open BO saat menjabat Warek III.

Aom adalah pemuda desa dari Pandeglang yang masa kecilnya dihabiskan di pesantren dan madrasah. Kuliahnya pun di UPI Bandung (Universitas Padahal IKIP), kuliah mengambil jurusan keguruan identik dengan kesederhanaan. Apalagi Aom adalah seorang santri yang menjabat Wakil Ketua NU Lampung.

Latar belakang Aom penuh dengan kesederhanaan. Lalu apa yang mendorongnya melakukan Open BO untuk membangun rumah, membangun gedung Lampung Nahdliyin Center, membeli tanah, menyimpan batangan emas, memiliki SDB di Bank dan menyembunyikan uang cash hingga miliaran rupiah. Dendam terhadap kemiskinan memang fatalis. Open BO dipelajarinya saat menjadi Warek III lalu dipraktekan saat menjabat Rektor.

Sebelum Aom, Rektor Unila adalah Mat Akin. Rektor Unila hanya satu periode yang memiliki banyak kos-kos an mewah mirip hotel dibilangan Pramuka Rajabasa. Menjadi rektor di usia senja sehingga jabatannya yang kedua dibatasi oleh umur. Mat Akin adalah orang yang ditenteng Aom kesana kemari untuk mendapat dukungan dari NU saat pencalonan Rektor Unila tahun 2015.

Banyak hotel yang dimiliki Mat Akin dibangun saat menjabat Rektor Unila. Ketika Aom ditangkap KPK, Mat Akin sudah menikmati hasil dari hotel-hotelnya, setiap kamar yang terisi menjadi mesin uang bagi Mat Akin.

Saat Mat Akin menjabat Rektor Unila, ada dosen yang dipenjara karena menerima uang 300 juta ketika Open BO, sialnya pemberi uang tidak lulus ujian mandiri sehingga dilaporkan kepolisi. Saat dikonfirm wartawan soal Open BO, buru-buru Mat Akin membantah “seperti orang bener” bahwa tidak ada Open BO di Unila.

Tidak berhenti soal drama dosen yang Open BO, drama Mat Akin berlanjut dengan memukuli tetangganya karena ketahuan menyerobot tanah dan memiliki sertifikat atas nama isterinya ditanah korban. Korban ini bernama Rodia dan masih memiliki sertifikat induk diatas hotel yang diklaim milik isteri Mat Akin. Pemukulan itu disaksikan banyak orang, anak isteri korban melihat langsung termasuk satpam Unila yang mengawal Mat Akin menjadi saksi.

Belajar dari kasus Sambo, laporan polisi dan hasil visum memang bisa direkayasa. Obrolan kaki lima sambil ngopi, cukup sekali Open BO sisanya masih kebanyakan untuk merekayasa itu.

Untuk menghibur keluarga Rodia agar tidak berkecil hati karena tanahnya diserobot dan laporannya tidak direspon polisi. Saat mengajar saya ajak Rodia ke kelas. Dihadapan mahasiswa Fisip Unila, Rodia bercerita tentang peristiwa sesungguhnya yang terjadi karena saat itu berita di media banyak di pelintir.

Semua kronologis penyerobotan tanah dan
pemukulan serta foto-fotonya tersimpan di FB saya dengan nama Maruly Reborn. Jangan membuka FB saya yang bernama Maruly Tea, karena disitu ada poto-poto Bandit.

Saya tidak membenarkan apa yang dilakukan Ferdy Sambo. Tapi menurut saya wajar tapi tidak bisa dimaklumi jika Sambo berlaku seperti itu. Setamat SMA dia langsung pegang senjata. Begitu lulus akademi, pekerjaannya mengharuskan dia berinteraksi dengan bandit, penjahat kelas teri sampai mafia, bos judi hingga bandar narkoba. Yang tidak wajar adalah dua orang Rektor Unila yang sama-sama profesor, sama-sama melakukan tindak kriminal.

Bedanya Aom tertangkap sementara Mat Akin belum tertangkap. Walau belum tertangkap, hari tua Mat Akin selalu dihantui kekhawatiran dan ketakutan akan dosa-dosa masa lalunya saat menjabat
Rektor Unila terungkap. Situasi yang selalu dibayangi kegelisahan. Hidup takut ditangkap, mati takut sama malaikat.

Unila sebagai kampus penebar kebaikan diinterupsi setelah Prof. Sugeng P. Harianto tidak menjabat lagi. Rektor Unila terakhir yang memiliki integritas dan komitmen moral yang kuat. Rektor dua periode yang begitu bersahaja. Pada masa nya tidak ada istilah Open BO. Jalur mandiri digunakan untuk kepentingan anak dosen dan karyawan agar bisa kuliah di Unila.

Anak satpam dan karyawan hampir semua kuliah di Unila. Semua itu tanpa membayar
sepeserpun. Karena itu Prof Sugeng sampai selesai menjabat tidak memiliki hotel. Jika berkunjung kerumahnya kita akan diajak duduk diteras belakang sambil menikmati pisang rebus, ubi rebus dan kacang rebus hasil kebun sendiri dengan minuman wedang jahe. Dan yang mengantar makanan itu hingga sampai dimeja adalah isterinya. Bukan ART atau anggota keluarga lainnya.

Setelah Prof. Sugeng selesai menjabat tahun 2015, sejak itu Unila seperti selesai
menjalankankan tugasnya sebagai benteng terakhir yang menjaga etika dan moral.

Masyarakat sudah terbiasa membaca berita kriminal dan korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara. Tapi hari ini melihat fakta bahwa pelaku kriminal adalah Rektor Unila artinya alarm tanda bahaya sudah menyala. Penjaga gerbang moral terakhir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berbuat tidak senonoh.

Atmosfer akademik tercemar sejak tahun 2015 sampai sekarang. Jika Rektor melakukan Open BO maka dosen-dosennya juga melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda. Dalam setiap pemilihan pejabat publik, biasanya penyelenggara dari tingkatan kota/kab hingga Propinsi membentuk Pansel. Pansel ini melibatkan Unila yang bertugas melakukan uji kompetensi kepada semua calon pejabat publik.

Saat uji kompetensi , pansel utusan dari Unila akan melobi calon pejabat tadi dengan menitipkan koleganya yang pengusaha. Jika pejabat mengisi jabatan yang telah diloloskan Pansel maka selanjutnya transaksi bisnis berjalan antara pengusaha dan pejabat publik. Saat

Saat masa tugas pansel selesai maka utusan Unila tadi tinggal menikmati pembagian hasil dari setiap transaksi. Sampai sini dianggap lazim dan tidak ada yang salah, karena bukan tindak pidana. Tapi bagaimana jika Pejabat dan pengusaha tadi melakukan transaksi yang merugikan keuangan negara?

Bagaimana tanggungjawab dosen yang sudah meloloskan pejabat dan merekomendasikan pengusaha itu? Kampus sebagai tempat pertukaran ilmu pengetahuan dimana etika dan moralitas dirawat agar tumbuh subur dan menyebar dalam setiap lorong kehidupan rakyat. Kita bisa tetap hidup dengan berbagai tekanan karena selalu ada harapan. Jangan hancurkan harapan masyarakat pada Unila.

Jika hari ini Unila berada pada titik terendah sejarah peradaban etis dan moral, segera perbaiki. Dimulai dengan rapat senat untuk merevisi statuta. Karena legitimasi Aom menjadi Rektor bermula dari situ. Kelakuan anggota senat yang saat rapat hanya diam saja tapi ngunyah kue terus atau ngomong gak nyambung tapi setelah rapat ikut tanda tangan honor baiknya segera diganti. Yang terpenting adalah mengeliminir faksi Profesor jahat seperti Aom dan Mat Akin.

Sambil menunggu janji KPK yang akan menetapkan tersangka baru, ada baiknya menjelang 40 hari tertangkapnya pelaku Open BO, Unila segera menyelenggarakan takziyah.

* Penulis, Dr. Maruly H. Utama, Dosen Pasca Sarjana Unpas, Dewan Pakar SMSI

** Artikel dengan judul yang sama juga tayang di bergelora.com

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terkait

Copyright © pembaruan.id
All right reserved